Benih Mudah, Untung Pasti : Jurnalisme dari Desa Harapan Tani
Tulisan Oleh: Zainab
A. Pendahuluan
Pagi baru saja merekah di Desa Harapan Tani ketika Pak Rahmat, 52 tahun, membuka karung kecil berisi benih padi unggul. Tangannya yang kasar memeriksa butiran satu per satu. “Kalau benihnya bagus, separuh harapan sudah ada,” ujarnya pelan.
Di desa ini, benih bukan sekadar awal tanam, melainkan penentu nasib. Aktivitas pagi berjalan seperti biasa: suara air irigasi mengalir, langkah petani menuju sawah, dan obrolan ringan tentang musim tanam. Namun satu topik selalu muncul—benih yang mudah ditanam dan menjanjikan hasil.
Beberapa tahun terakhir, petani mulai beralih dari benih lokal lama ke benih unggul yang lebih tahan hama dan berumur pendek. Harapan pun tumbuh: biaya lebih terkendali, panen lebih cepat, dan keuntungan lebih pasti. Di tengah ketidakpastian cuaca dan harga, benih menjadi tumpuan optimisme.
B. Di Balik Pilihan Benih
Bu Sari, 45 tahun, masih ingat masa ketika panen sering gagal akibat serangan hama. “Dulu tanam asal dapat benih murah, hasilnya juga asal,” katanya sambil menabur benih di persemaian. Kini ia memilih benih bersertifikat, meski harganya sedikit lebih mahal.
Menurut data kelompok tani, penggunaan benih unggul meningkatkan hasil panen hingga 20 persen. Masa tanam lebih singkat dan kebutuhan pestisida berkurang. Petani merasakan perbedaan nyata: padi tumbuh seragam, batang lebih kuat, dan bulir lebih bernas.
Namun tidak semua petani mudah beralih. Harga benih, akses informasi, dan kebiasaan lama masih menjadi hambatan. Bagi sebagian orang, mencoba benih baru adalah risiko. Tapi bagi yang sudah merasakan hasilnya, keputusan itu dianggap investasi. “Sekali tanam, hasilnya terasa,” kata Pak Rahmat.
C. Antara Janji dan Kenyataan
Program bantuan benih dari pemerintah sempat hadir, namun jumlahnya terbatas dan distribusinya tidak selalu merata. Di papan pengumuman balai desa, daftar penerima sering menjadi bahan perbincangan.
Sebagian petani akhirnya membeli benih sendiri dari kios pertanian. Mereka menghitung dengan cermat: biaya benih lebih tinggi, tetapi potensi panen juga meningkat. Dalam perhitungan sederhana, keuntungan bersih masih lebih baik dibanding benih lama.
Meski begitu, benih unggul bukan solusi tunggal. Irigasi, pupuk, dan harga gabah tetap menentukan. “Benih bagus tanpa air ya percuma,” ujar seorang petani muda. Di sinilah realitas lapangan menegaskan bahwa pertanian adalah rangkaian faktor yang saling terkait.
D. Penutup
Di Desa Harapan Tani, benih menjadi simbol harapan baru. Mudah ditanam, cepat dipanen, dan memberi keyakinan akan hasil yang lebih baik. Meski tantangan pertanian belum usai, pilihan benih yang tepat memberi napas optimisme.
Keuntungan memang tidak selalu pasti, tetapi usaha untuk mendekati kepastian itulah yang terus dilakukan petani. Dari persemaian kecil hingga hamparan hijau, benih menjadi awal cerita tentang ketekunan dan harapan.
Pak Rahmat menatap sawahnya yang mulai menghijau.
“Petani tidak menuntut kaya,” katanya, “kami hanya ingin usaha kami sebanding dengan hasil.”
Suara Penulis
Menulis tentang benih berarti menulis tentang awal kehidupan. Di tangan petani, benih adalah keputusan, keberanian, dan harapan.
Saya melihat keyakinan tumbuh seiring tumbuhnya padi. Benih yang tepat tidak hanya menjanjikan panen, tetapi juga rasa percaya diri petani terhadap masa depan.
Jurnalisme desa adalah tentang hal-hal sederhana yang menentukan hidup banyak orang. Karena dari benih kecil itulah, pangan dan kehidupan bangsa bermula.
