Breaking News

Perangkap Dunia: Renungan Ibnu Qayyim tentang Godaan Duniawi dan Kehidupan Akhirat

Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. 

Jendelakita.my.id. -  Imam Ibnu Qayyim berkata, "Barangsiapa mengingat perangkap burung, maka tak berat baginya untuk meninggalkan sebutir biji makanan." Imam Ibnu Qayyim menyerupakan seseorang dengan seekor burung lapar yang melihat perangkap berisi makanan, yang tampak dapat membebaskannya dari kelaparan tersebut. Ia berada dalam kebingungan, antara melahap lezatnya makanan untuk bertahan hidup, atau menghindari dua ketakutan: takut lapar yang dapat membawa kehancuran dan takut masuk perangkap yang juga dapat menyebabkan kehancuran.

Ada kalanya rasa lapar mengalahkan akal sehat sehingga ia lebih tertarik pada makanan yang dicari-carinya dengan mengabaikan akibatnya. Akibatnya, ia masuk ke dalam perangkap, lalu menjadi tawanan di tangan si pembuat yang memperlakukannya sekehendak hati. Ia menjadi tawanan sangkar burung dan tidak akan dikeluarkan darinya sampai mati, atau disembelih untuk dinikmati dagingnya. Adakalanya pula ia menyadari akibatnya, yakni bagaimana jika pintu perangkap itu menutup dan bagaimana pula ia akan hidup di dalamnya. Kesadaran itu membuatnya pergi menjauh, sebab ia lebih memilih bersabar menghadapi rasa lapar daripada harus hidup kenyang sebagai tawanan.

Demikian pula halnya dengan orang yang mengingat azab kubur, pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, kedahsyatan hari kiamat, terbukanya aib di akhirat, banyaknya keletihan dan penyesalan, serta pertanyaan Allah pada hari kiamat. Semua itu membuatnya tidak berani mendekati perhiasan dunia yang menyimpan murka Allah dan menjauhkannya dari jalan-Nya. Ia lebih memilih kelaparan, berkurangnya harta, jiwa, dan nilai kehidupan, daripada menjadi orang hina yang diperbudak oleh setan serta hidup seperti orang mabuk yang berjalan sempoyongan tanpa sadar diri.

Sebab dunia, sebagaimana kata Yahya bin Mu’adz, adalah "Khamar setan." Barangsiapa yang mabuk karena dunia, ia tidak akan sadar diri kecuali setelah berada di dalam "ketanda kematian," dalam keadaan menyesal di tengah-tengah orang yang merugi (Shuffatu ash-Shaffah, 4/98). Senada dengan itu, seorang zahid, Basyar al-Hafi, berkata, "Barangsiapa mencintai dunia hendaklah ia bersiap-siap untuk menjadi hina" (al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 10/297).

Yang demikian itu terjadi karena seseorang tidak akan memperoleh apa yang dicintainya hingga ia mau menjadi tawanan di tangan setan, mabuk karena khamar dunia. Menjelang akhir zaman, sebagaimana telah disinyalir para imam, hal tersebut banyak terjadi. Manusia lebih suka hidup terhina demi mengejar kebahagiaan atau keuntungan dunia. Ada yang tertawan seperti "budak," mengikuti kehendak atasan tanpa sedikit pun memberikan argumentasi, meski akibatnya menzalimi banyak orang.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 96:

"Sesungguhnya kamu akan mendapatkan manusia yang paling berambisi terhadap kehidupan di dunia, bahkan yang lebih berambisi lagi adalah orang-orang yang musyrik. Masing-masing mereka mendambakan agar diberi umur seribu tahun. Padahal umur panjang itu tidak akan dapat menjauhkannya dari azab."

Dalam surat Ali Imran ayat 185, Allah Swt. juga berfirman:

"...Tidaklah kehidupan dunia melainkan harta benda yang memperdayakan."

Dan dalam QS. An-Nisa ayat 77:

"Katakanlah, 'Kesenangan dunia ini hanya sedikit, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.'"