Pagi Hariku
Tulisan oleh : Dina Dwi Lestari
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
Jendelakita.my.id. - Pukul lima pagi, aku sudah berdiri di samping kasur. Kamarku masih gelap karena aku tidak suka tidur dalam keadaan lampu menyala.
“‘Huh, Dimana sih Saklar lampu ini!’” ucapku kesal karena tidak kunjung menemukan saklar. Mataku menyipit ketika cahaya lampu yang terang menerpa wajahku. Aku kemudian bercermin dan menatap diriku sendiri.
“Cantik sekali aku ini. Semua perempuan di dunia cantik, kan? Termasuk aku tentunya!” pikirku. Percaya diri sekali aku ini. Namun, keluargaku dan teman-temanku tidak sependapat. Mereka sering berkata bahwa aku terlalu percaya diri dan narsis.
Aku tidak menyangkal fakta tersebut karena sepertinya apa yang mereka katakan memang ada benarnya. Meski begitu, aku tidak terlalu peduli dengan perkataan orang lain. Ini hidupku, ini diriku. Terserah orang lain mau berbicara apa tentangku, selama aku tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak menggangguku.
“‘Malas nian aku mandi pagi, Tapi ya mau bagaimana lagi. Aku harus berangkat ke sekolah,’” ucapku malas.
Air di waktu subuh terasa sangat dingin. Karena tidak tahan dengan dinginnya air, aku menyelesaikan mandi dengan cepat.
“‘Bersih-bersih’,” pujiku kepada diri sendiri.
Setelah selesai mengenakan pakaian, aku sarapan untuk mengisi energi sebelum memulai aktivitas hari ini. Tiba-tiba aku teringat bahwa hari ini mungkin akan ada banyak kegiatan di sekolah.
“‘Sepertinya hari ini sekolahnya banyak kegiatan deh… Oh ya ada ulangan!’” panikku karena baru teringat bahwa hari ini ada ulangan harian Matematika.
Selesai sarapan, aku segera membuka buku catatan Matematika dan mulai mengingat-ingat rumus yang menurutku menyebalkan itu.
“‘Kenapa harus hari ini!’” kesalku.
Aku juga kesal kepada diriku sendiri karena tidak belajar sejak kemarin. Aku teringat bahwa kemarin waktuku lebih banyak digunakan untuk bermain sehingga aku terus menunda-nunda belajar.
“‘Hah… Nasib nasib. Berserah diri saja,’” pikirku pasrah.
Aku kemudian mencari kedua orang tuaku untuk berpamitan. Kulihat ibuku sedang menyiapkan air minum untukku. Aku pun menyalim ibuku.
“‘Aku Berangkat dulu,’” pamitku kepada ibu.
Ayah entah berada di mana. Mungkin beliau sudah berangkat ke sawah.
Aku mengeluarkan motor yang setiap hari menemaniku pergi ke sekolah. Setelah motor dinyalakan dan dipanaskan, aku segera berangkat.
Aku dan motorku sudah berada di jalan desa. Ada satu hal yang paling kusukai saat mengendarai motor, yaitu menyebarkan senyum kepada orang-orang yang kutemui. Entah mereka orang asing maupun orang yang sudah kukenal, aku senang menyapa mereka dengan senyum. Aku juga senang ketika orang yang kusenyumi membalas senyumanku.
“‘Pagi Bude, Mau ke sawah?’” sapaku kepada Bude Siti yang kutemui di jalan.
Bude Siti mengenakan caping. Dari penampilannya, sudah dapat dipastikan bahwa ia hendak berangkat ke sawah.
“‘Nggih Din…’” jawab Bude Siti.
Aku tersenyum kepadanya.
“‘Misi Bude,’” ucapku sambil melewatinya.
“‘Ya, Hati-hati Din…’” balas Bude Siti.
Begitulah perjalanan pagiku menuju sekolah. Aku selalu menikmati perjalanan tersebut, terutama ketika bisa melihat senyuman orang lain. Bagiku, senyum sederhana dapat membuat pagi terasa lebih menyenangkan.