Ketika Rasa Sakit Mengajarkan Arti Kemandirian
Tulisan oleh : Sabrina Ramadhanie Putri
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
Jendelakita.my.id. - Mau diulang ratusan kali pun, rasa sakit ini tidak akan pernah berubah menjadi kebahagiaan. Jika suatu hari nanti aku berdiri dengan bangga, itu bukan untuk menyombongkan diri. Aku hanya ingin dunia melihat bahwa seorang manusia kecil yang telah ribuan kali dipatahkan, ratusan kali diabaikan, dan berkali-kali dihantam kenyataan, ternyata mampu bertahan dan menjalani hidup tanpa harus menunggu uluran tangan dari siapa pun.
Kesedihan yang berganti menjadi kebahagiaan tidak sesederhana bulan yang menggantikan matahari. Ada luka yang membutuhkan waktu panjang untuk sembuh, bahkan ketika keadaan telah berubah menjadi lebih baik. Jika sosok yang selama ini menjadi tulang punggung kembali hadir untuk mengayomi dengan segala sesuatu yang telah diberikannya, mungkin aku tidak akan mampu sepenuhnya percaya.
Cinta yang perlahan berubah menjadi kebencian telah begitu dalam mengakar. Meski di dalam hati masih ada keyakinan bahwa semuanya pada akhirnya akan berakhir, luka dan kenangan yang tertinggal tidak mudah untuk dilupakan.
Namun, jika kelak aku mampu berdiri sendiri, keberhasilan itu bukan sekadar tentang membuktikan sesuatu kepada dunia. Itu adalah bukti bahwa manusia yang pernah merasa begitu kecil dan berkali-kali dijatuhkan pun tetap mampu bangkit, bertahan, dan melanjutkan hidup dengan kekuatannya sendiri.