Breaking News

Mulia Tanpa Takabur


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. 

Jendelakita.my.id. -  Salah satu tanda kepribadian seorang Muslim adalah memiliki kemuliaan tanpa disertai sikap takabur. Seorang Muslim tidak akan merendahkan dirinya atau tunduk secara hina kepada orang lain. Kemuliaan yang dimilikinya tidak dibangun atas kepalsuan dan dusta. Kemuliaan tersebut juga tidak bercampur sedikit pun dengan keangkuhan.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi insan yang mulia, kuat, dan kokoh, tetapi bukan dengan membangun kekuatan di atas penderitaan orang-orang yang lemah. Kemuliaan juga bukan alasan untuk memuji diri sendiri. Sebaliknya, Islam mengajarkan manusia untuk menyingkirkan kelemahan dan ketidakberdayaan, sekaligus menyerukan sikap tawadhu. Tidak seorang pun berhak bersikap takabur karena kebesaran hanya milik Allah SWT. Dia memiliki kebesaran di langit dan di bumi.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menyatakan, “Kemuliaan itu sarung-Ku, dan kebesaran itu selendang-Ku. Barang siapa yang menandingi-Ku dengan salah satu dari keduanya, maka niscaya Aku akan menyiksanya” (Muslim).

Ketika seorang Muslim telah mencapai kemuliaan jiwa, ia tidak akan merendahkan dirinya maupun orang lain. Kepribadiannya yang mulia membuatnya mampu menghargai siapa pun yang menghormatinya dan tidak merendahkan orang lain. Penampilannya pun bersahaja. Karena itu, orang-orang tidak membicarakannya dengan nada miring atau menyebutnya sebagai pribadi yang angkuh dan sombong.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada keangkuhan, meski hanya sebutir biji sawi. Seseorang lelaki bertanya. Bagaimana jika seseorang pria ingin mengenakan pakaian serta sandal yang baik. Jawab beliau. Sesungguhnya Allah itu indah, dan menyukai keindahan. Keangkuhan itu menolak kebenaran, serta tak menghargai manusia” (Muslim).

Lantas, bagi siapakah kemuliaan itu? Alhamdulillah, Al-Qur'an menerangkan, “Kemuliaan itu bagi Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman” (QS Al-Munafiqun ayat 8).

Allah SWT mengarahkan hamba-hamba-Nya untuk mencari kemuliaan dengan disertai penjelasan bahwa kemuliaan tersebut bukan diperoleh dari makhluk, meskipun makhluk itu kaya dan berkuasa. Kemuliaan sejati berasal dari Allah Yang Maha Agung. Jalan untuk meraihnya adalah melalui iman dan amal saleh.

Allah SWT menerangkan, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perbuatan yang baik dan amal saleh dinaikkan-Nya” (QS Al-Fatir ayat 10).

Dengan petunjuk yang jelas, Al-Qur'an memberikan batasan bahwa cara meraih kemuliaan adalah dengan beriman dan beramal saleh sebagai bentuk pengesaan kepada Allah SWT. Karena itu, selayaknya manusia tidak meminta kecuali hanya kepada-Nya dan tidak memohon pertolongan selain kepada-Nya.

“Jika engkau menyampaikan peetoky, sampaikan kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan mohonlah kepada Allah.” (QS, Yunus ayat 26-27).