Novel Epik Komering "Minanga"
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan)
Jendelakita.my.id. - Novel Epik Komering Minanga merupakan buah karya dua putra Tiuh Minanga, H. Albar Sentosa Subari dan H. Irwansyah Mulkan, yang berjudul Istana Gonong Gonong. Dalam prolog diceritakan bahwa pada masa purba, jauh sebelum nama-nama negeri ditulis di peta dunia, ada sebuah kota yang bersinar di lembah subur antara dua sungai besar, yaitu Minanga.
Bentengnya menjulang tinggi menembus kabut pagi, seolah menentang langit itu sendiri. Di tengah kota berdiri Istana Datu Minanga, megah dengan atap bertatah emas dan ukiran naga yang menghiasi tiang-tiang penyangga. Udara kota selalu harum oleh wewangian dan bunga setaman, menjadi tanda kesucian yang dijaga turun-temurun oleh para penjaga yang setia.
Namun, di balik kemegahan itu tersembunyi sesuatu yang tak terlihat oleh mata manusia biasa, yakni rahasia minyak sakral bernama INDOK MINYAK WANGI, peninggalan dari Puyang yang diyakini mampu menyelubungi kota dari pandangan dunia nyata. Hanya Datu Minanga, permaisuri tercinta, dan para panglima setia yang mengetahui letak serta cara memanggil kekuatannya.
Suatu hari, kabar perang terdengar dari arah utara. Pasukan lawan menyeberangi sungai, mendaki gunung, serta menuruni lembah dengan tekad membawa kemenangan atau kematian. Datu Minanga, dengan mata elang dan dada bergemuruh, memutuskan untuk memimpin pasukannya sendiri. Ia menyadari bahwa sebuah kemenangan membutuhkan pengorbanan, namun di lubuk hatinya tersimpan kekhawatiran yang tak dapat dihindari: bagaimana jika Minanga hilang ketika ia pergi berperang.
Malam sebelum keberangkatan, Datu Minanga memerintahkan pelaksanaan upacara suci di gerbang istana. Dua botol kecil berisi INDOK MINYAK WANGI panglimunan diletakkan di antara dua tiang utama. Setiap tetesnya dibacakan doa. Angin malam berhembus membawa aroma wangi tak dikenal, antara bunga kamboja, dupa, dan cahaya bintang di angkasa. Para panglima berdiri tegap, menunggu kekuatan turun dari langit.
Namun, takdir selalu memiliki caranya sendiri untuk berbisik. Ketika fajar merekah, dua ekor kerbau peliharaan istana, yang tadinya jinak, tiba-tiba bertarung di bawah gerbang. Tanduk kerbau menghantam pilar utama hingga salah satu botol minyak panglimunan pecah. Minyak itu tumpah, mengalir ke tanah, lalu menimpa kepala kedua kerbau tersebut.
Dalam sekejap, mata kerbau memerah dan suara menggema seperti guntur dari dunia lain. Kedua kerbau itu melesat liar, menyusuri jalan-jalan kota sambil menumpahkan sisa minyak wangi. Yang tersisa hanyalah aroma harum dan desir lembut angin, membawa bisikan yang hanya dimengerti oleh makhluk halus.
Ketika Datu Minanga pulang dari perang dengan kemenangan di tangannya, yang ditemuinya hanyalah tanah kosong dan kabut. Tak ada istana, tak ada rakyat, dan tak ada suara. Ia berlutut di tanah yang dahulu bersumpah untuk menjaga Minanga. Air matanya jatuh, bercampur dengan debu dan sisa aroma wangi yang kini menjadi saksi kehilangan.
Dalam keheningan itu, ia berikrar meninggalkan dunia fana. Ia naik ke puncak Gunung Seminung, menjadi pertapa, dan menyerahkan hidupnya kepada Sang Pemilik Takdir. Para prajurit yang tersisa pun tercerai-berai; sebagian membangun Minanga baru di seberang sungai, sebagian merantau ke tanah Jawa, dan sebagian lagi hilang tanpa jejak.
Sejak saat itu, tanah tempat Minanga " purba" menghilang akhirnya disebut GONONG GONONG, tanah kabut dan bisikan. GONONG GONONG, semangatnya masih hidup, hanya menunggu jiwa yang berani membangunkannya kembali. Tulisan ini menjadi suatu inspirasi bagi generasi keturunan Tiuh Minanga untuk bangkit. Alhamdulillah, pada hari Jumat barokah, 6 Februari 2026, anak keturunan Puyang Minanga membentuk suatu perkumpulan bersama SAI MINANGA SI ANGKONAN.
