Hai Jiwa yang Tenang, Pulanglah
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita,my.id. - Rabi’ah Al-Adawiyah adalah seorang kekasih Allah yang sepanjang hidupnya dibaktikan sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah Swt. Setiap hari ia melaksanakan salat hingga 1.000 rakaat dan pada siang hari senantiasa berpuasa. Ibadah yang dilakukannya bukan karena mengharapkan surga atau takut akan neraka, melainkan semata-mata dilandasi cinta kepada-Nya.
Demi menjaga kemurnian cintanya kepada Allah, Rabi’ah memilih untuk tidak menikah sepanjang hidupnya. Karena ketulusan dan kesuciannya itu, Syaikh Fariduddin Aththar menjulukinya sebagai “Perawan Suci dan Diri Maryam Kedua”.
Ketika saat kematian menjemput Rabi’ah Al-Adawiyah, ia dikelilingi oleh sekelompok orang saleh.
Dalam keadaan tersebut, Rabi’ah Al-Adawiyah berkata,
“Bangkitlah kalian. Silakan keluar! Berikan jalan terbentang untuk utusan Allah.” Maka orang-orang yang berada di sekelilingnya pun bangkit dan meninggalkan ruangan. Setelah pintu ditutup, mereka mendengar suara Rabi’ah Al-Adawiyah mengucapkan syahadat yang kemudian dijawab oleh sebuah suara dengan nada yang begitu indah dan syahdu, “Hai jiwa yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai, masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Demikianlah, seakan-akan suara itu menyatakan,
“Hai jiwa yang tenang penuh cinta! Kini saatnya bagimu untuk mengecap kebahagiaan sejati, dengan kenikmatan yang tiada habis dan kebahagiaan yang tak akan hilang. Masuklah! Naik ke puncak tertinggi, bergabung dengan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang. Bergembiralah di dalam surga yang luasnya seperti langit dan bumi, yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa.”
Rabi’ah Al-Adawiyah telah menyelesaikan tugasnya sebagai bidadari dunia dan mencapai akhir perjalanannya. Mereka yang sampai pada akhir perjalanan rohani adalah mereka yang telah meneguhkan diri, meninggalkan keadaan-keadaan lahiriah, serta menyingkap hijab pembatas antara dirinya dengan Yang Ilahi. Ruh mereka tinggal dalam Nur Hakiki dan menikmati kedekatan sejati yang menjadi kegembiraan ruh dalam kesempurnaan keindahan Tuhan. Sebagian dari mereka mencapai peringkat kepemilikan cahaya keyakinan di dalam batin, dengan pikiran yang sepenuhnya terpusat kepada Yang Gaib.
Rabi’ah Al-Adawiyah pun telah mencapai kesempurnaan sebagai kekasih Allah yang sejati. Cintanya kepada Allah begitu tulus, suci, dan murni tanpa tandingan. Adakah manusia yang takut mati? Ketahuilah bahwa kematian adalah keniscayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamatlah disempurnakan pahala manusia.
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” Kata Allah (QS. Ali Imran ayat 185). Oleh karena itu, ke mana pun manusia bersembunyi dan apa pun upaya yang dilakukan untuk memperpanjang umur, kematian pasti akan menjemput, baik cepat maupun lambat, tua ataupun muda.
Karena itu, marilah kita senantiasa berdoa dan terus berdoa, disertai dengan memperbanyak amal saleh serta mempertebal iman, agar kelak kita termasuk dalam golongan Rabi’ah Al-Adawiyah, yaitu golongan yang dipanggil dengan panggilan cinta dari Sang Kekasih. “Hai jiwa yang tenang, pulanglah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr ayat 27–30).
