Breaking News

Awal Mula Menjadi AUD di SMA Negeri Tugumulyo


 Tulisan oleh : Colin Evangelista

(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)

Jendelakita.my.id. - Awalnya, saya ingin melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri Tugumulyo. Namun, ibu tidak menyetujuinya karena beliau ingin saya bersekolah di SMA Negeri Tugumulyo. Menurut ibu, SMA tersebut lebih dekat dari rumah sehingga tidak terlalu jauh untuk ditempuh. Selain itu, SMA Negeri Tugumulyo merupakan salah satu sekolah terbaik di Musi Rawas. Banyak siswa-siswinya yang berprestasi sehingga sekolah tersebut semakin maju dan memiliki nama baik.

Cerita Day One MPLS

Saat mengikuti MPLS, sebenarnya saya merasa sangat kecewa dengan keputusan ibu. Suasana hati saya juga cukup sedih. Namun, saya mencoba menjalaninya dengan santai. Saya melihat begitu banyak siswa yang mendaftar ke SMA Negeri Tugumulyo, tetapi sebagian dari mereka tidak dinyatakan lulus.

Ketika pembagian gugus, saya mendapatkan Gugus 8, yaitu Jenderal Soedirman. Saya kemudian dibawa ke kelas yang sampai sekarang menjadi tempat saya belajar. Di kelas tersebut terdapat lima orang yang berasal dari SMP yang sama dengan saya.

Saat sesi pengenalan, saya sempat melamun dan berpikir, "coba aja kalo aku di smk , pasti seru bisa ketemu sama temen - temen deketku". Tanpa saya sadari, tiba giliran saya untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri. Salah seorang kakak OSIS kemudian bertanya, "alasan kamu masuk sekolah ini?" Saya pun menjawab dengan jujur, " saya disuruh orang tua saya". Setelah itu, saya diminta kembali ke tempat duduk. Sepanjang kegiatan MPLS, pikiran saya masih dipenuhi keinginan untuk bersekolah di SMK.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal teman-teman baru. Kami duduk melingkari meja sambil bercanda dan tertawa bersama. Momen tersebut membuat saya teringat kepada teman-teman SMP. Saya berpikir, "oh iya dulu kita pernah tertawa bersama seperti ini, dan duduk melingkar i meja". Perasaan saya tiba-tiba menjadi sedih. Saya kembali ke tempat duduk dan tanpa sengaja menangis.

Teman sebangku saya kemudian bertanya, "kenapa?" Saya menjawab, "saya keinget sama temen - temen smpku , terus saya cerita bahwa saya ingin sekali smk karena ingin dekat dengan meraka walaupun tidak sekelas nantinya dan juga nanti selesai sekolah saya bisa langsung bekerja."

Namun, ibu dan kakak saya sangat ingin saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka bahkan ingin mencari berbagai cara agar biaya kuliah dapat terpenuhi. Bagi ibu dan kakak, saya adalah harapan terakhir dalam keluarga yang diharapkan dapat melanjutkan pendidikan hingga kuliah.

Hal tersebut terus saya pikirkan dan pertimbangkan. Sebelum masuk SMA maupun setelah menjadi siswa SMA, ada banyak hal yang membuat saya merasa sedih dan lebih sering murung di kamar. Sebagai anak terakhir, saya merasa harus mempertimbangkan banyak hal. Terkadang semangat saya hilang, tetapi saya selalu mengingat pesan singkat dari ibu saya, " kamu harus bisa dan ibu pengen kamu harapan terakhir ibu yang bisa sukses kelak kedepannya".

Terkadang saya merasa pesan tersebut begitu berat untuk dijalani. Saya juga pernah merasa ragu apakah mampu memenuhi harapan tersebut. Namun, saya akan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Saya memiliki cita-cita menjadi seorang psikolog. Saya ingin mendengarkan cerita orang-orang yang selama ini mereka pendam hingga akhirnya membawa mereka untuk mencari bantuan kepada psikolog. Saya ingin membantu mereka menghadapi dan memulihkan kondisi mentalnya.

Cerita Keluarga Ibu

Di keluarga saya terdapat aturan khusus yang selalu diingatkan oleh ibu dan ayah. Setiap menjelang magrib, saya diminta segera masuk ke dalam rumah. Suatu ketika, saya mendengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Saya tidak mengingat apa yang sebelumnya dikatakan oleh ibu dan ayah sehingga saya membuka pintu tersebut. Namun, tidak ada seorang pun di luar.

Setelah menutup pintu dan masuk kembali ke dalam rumah, ibu berkata, "siapa? kan udah ibu bilang kalo magrib ada yang ketok - ketok pintu 3 kali jangan di buka apalagi dijawab!" Saat itu saya kembali teringat dengan perkataan ibu sebelumnya. Ibu kemudian menyuruh saya melaksanakan salat magrib. Setelah selesai salat, saya kembali ke kamar dan memikirkan perkataan ibu tadi.

Saya juga ingin bercerita tentang keluarga dari pihak ibu.

Ibu saya memiliki enam saudara. Namun, jumlah tersebut kini tidak lagi lengkap karena tiga saudara ibu telah meninggal dunia. Ibu merupakan anak kelima. Di keluarga ibu, terdapat kepercayaan mengenai kemampuan khusus yang disebut sebagai indra. Salah satunya adalah ibu saya. Saya juga memiliki seorang sepupu yang dipercaya mempunyai kemampuan serupa setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Saat berkumpul bersama keluarga dari pihak ibu, mereka sering menceritakan pengalaman dan kehidupan mereka pada masa lalu. Salah satu cerita yang hampir selalu muncul adalah kisah-kisah menyeramkan. Mereka menceritakan berbagai hal yang pernah mereka lihat dan tidak semua orang mengetahuinya.

Menurut cerita yang mereka sampaikan, manusia seolah memiliki dua kehidupan yang berdampingan, tetapi berada dalam dimensi yang berbeda.

Saya sendiri sebenarnya sangat menyukai cerita-cerita menyeramkan dan horor. Namun, ketika sedang sendirian, saya termasuk orang yang cukup penakut.