Dedikasi Mbak Asih, Pustakawan STAI BS yang Inspiratif
Tulisan oleh: Nisya Nur Fadila (Mahasiswa KPI Semester IV)
Jendelakita.my.id. - Menjadi seorang pustakawan bukan sekadar menjaga buku, melainkan sebuah seni mengelola data dan membangun hubungan baik dengan para pemustaka. Hal inilah yang dirasakan oleh Mbak Asih, seorang pustakawan di Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari (STAI BS). Kisah dan pengalaman Mbak Asih ini terungkap dalam sebuah wawancara mendalam yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAI BS baru-baru ini.
Dalam sesi wawancara tersebut, Mbak Asih menceritakan awal mula ketertarikannya menggeluti profesi ini. Ia mengaku termotivasi oleh keinginan kuat untuk membantu meningkatkan minat baca di lingkungan kampus, sekaligus memperluas jaringan pertemanan dan relasi.
"Menjadi petugas perpustakaan itu menambah minat baca dan memberikan kesempatan untuk menambah teman-teman baru atau relasi," ungkap Mbak Asih saat menjawab pertanyaan mengenai alasannya tertarik menjadi pustakawan.
Menjaga fokus di tengah tumpukan data dan dokumen perpustakaan tentu bukan perkara mudah. Ketika ditanya mengenai tips mengelola data agar tetap fokus, Mbak Asih membagikan strategi sederhananya yang disiplin. Ia selalu berusaha mematuhi peraturan perpustakaan yang berlaku serta menumbuhkan sikap saling toleransi antarsesama pengguna perpustakaan. Lingkungan yang kondusif dan tertib inilah yang membuatnya konsisten dalam bekerja.
Selama mengabdi di perpustakaan STAI BS, banyak sekali pengalaman berharga yang didapatkannya. Profesi ini memungkinkannya untuk terus membuka wawasan baru karena setiap hari ia berbaur langsung dengan mahasiswa serta para dosen yang berkunjung ke perpustakaan.
Bagi Mbak Asih, dinamika pekerjaan ini memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga, baik suka maupun duka, yang semuanya ia maknai sebagai proses proses pendewasaan dan pembelajaran diri.
Melalui wawancara ini, mahasiswa KPI STAI BS berhasil memotret sisi lain dari sudut perpustakaan bahwa di balik tumpukan buku, ada dedikasi seorang pustakawan seperti Mbak Asih yang terus bergerak mengedukasi dan melayani civitas akademika dengan sepenuh hati.
