Membedah "Dapur" Riset Porec 2026 : Mengapa Publik Khawatir MBG Hanya Jadi Bancakan Elite?
Oleh: M. Umar Husein
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) awalnya datang dengan narasi heroik
: memutus rantai stunting dan menyiapkan Generasi Emas 2045. Namun, laporan
terbaru dari Policy Research Center (Porec) bertajuk "Laporan
Riset Siapa Yang Diuntungkan dari MBG" yang dirilis April 2026
ini, justru menjadi "bom waktu" bagi kredibilitas pemerintah.
Porec (Policy Research Center), Lembaga Penelitian Independen dengan
perspektif kritis dan interdisipliner, fokur mengkaji isyu-isyu kebijakan publik, sudah sering melakukan penelitian,
menghasil rekomendasi perbaikan dan meninjau ulang kebijakan tersebut.
Data riset ini menunjukkan adanya jurang yang sangat lebar antara
janji politik dengan realita di atas piring siswa. Berikut adalah uraian
mendalam mengenai titik-titik kritis yang membuat publik meradang.
1. Pergeseran Penerima Manfaat : Dari Siswa ke "Orang Dalam"
Temuan paling mencolok dari riset Porec adalah persepsi publik
mengenai siapa yang sebenarnya "kenyang" dari anggaran jumbo ini.
Sebanyak 88,5% responden menyatakan bahwa manfaat program ini justru
mengalir ke kelompok atas, bukan ke target sasaran.
· Elite dan Pejabat Politik
(44,5%): Publik melihat program ini
sebagai alat distribusi konsesi politik. Ada kecurigaan bahwa penentuan wilayah
prioritas atau vendor besar dipengaruhi oleh kedekatan politik, bukan murni
data urgensi gizi.
· Pengelola Dapur & Mitra
SPPG (44%): Satuan
Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang seharusnya menjadi ujung tombak kesehatan,
justru dipandang sebagai "ladang bisnis baru". Masyarakat menyoroti
adanya monopoli pengadaan bahan baku yang hanya melibatkan segelintir pengusaha
yang memiliki akses ke kekuasaan.
Ironisnya, hanya 6,5% responden yang merasa anak-anak sebagai
subjek utama benar-benar merasakan manfaatnya. Angka ini adalah tamparan keras,
program gizi anak tapi yang merasa untung justru orang dewasa di balik meja.
2. Skandal "Sunat Gizi" dan Rantai Distribusi yang Gelap
Masalah kualitas makanan menjadi isu yang paling emosional bagi
masyarakat. Riset Porec mengungkap bahwa 79% responden yakin kualitas
gizi sengaja "disunat" di tingkat operasional.
· Ketimpangan Harga vs Realita, Publik mempertanyakan selisih antara anggaran
per porsi yang dialokasikan pemerintah dengan nilai makanan yang sampai ke
tangan siswa. Sebanyak 76% responden merasa biaya per porsi tidak
proporsional. Muncul anekdot di masyarakat : "Anggaran protein daging,
yang sampai cuma tempe bening."
· Biaya Koordinasi yang Mahal, Rantai birokrasi dari pusat ke daerah, lalu ke
SPPG, hingga ke sekolah dianggap terlalu panjang dan korosif. Setiap tingkatan
diduga mengambil "margin" yang mengakibatkan porsi makanan siswa
semakin menciut di titik akhir.
3. Trauma Korupsi dan Ketidaksiapan Tata Kelola
Masyarakat Indonesia memiliki "ingatan jangka panjang" yang
buruk terhadap bansos. Ketakutan akan korupsi bukan sekadar asumsi, melainkan
kecemasan kolektif. Sebanyak 87% responden yakin program MBG memiliki
risiko korupsi yang sangat tinggi.
Porec mencatat bahwa publik melihat adanya celah besar dalam sistem
pengawasan. Tidak adanya transparansi real-time mengenai penggunaan anggaran di
tiap Satuan Pelayanan membuat masyarakat skeptis. Tanpa mekanisme audit yang
independen dan terbuka, program ini dianggap hanya akan mengulang sejarah kelam
penyelewengan dana sosial masa lalu.
4. Gelombang Penolakan: "Mending Stop Daripada Jadi Beban"
Data yang paling mengejutkan adalah sikap final masyarakat terhadap
keberlanjutan program ini. Sebanyak 80,1% responden menyatakan bahwa
program MBG saat ini harus dirombak total atau dihentikan sepenuhnya.
Sentimen negatif ini tidak hanya datang dari kalangan menengah ke
atas, tetapi juga dari masyarakat berpendapatan rendah yang menjadi sasaran
program. Alasan utamanya sederhana, mereka tidak ingin negara menambah utang
atau mengalihkan subsidi BBM/energi untuk program yang efektivitasnya diragukan
dan hanya memperkaya segelintir orang.
Kesimpulan, Butuh Transformasi, Bukan Sekadar
Ganti Nama
Hasil riset Porec 2026 ini adalah cermin retak bagi pemerintah.
Program Makan Bergizi Gratis saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Jika
pemerintah tetap memaksakan model pengelolaan yang tertutup dan kental dengan
nuansa bagi-bagi proyek, maka MBG hanya akan diingat sebagai kegagalan
kebijakan publik terbesar di dekade ini.
Masyarakat menuntut perubahan mendasar :
- Audit Total terhadap seluruh mitra SPPG dan vendor
pengadaan.
- Transparansi Anggaran hingga level porsi per siswa yang bisa
diakses publik.
- Pelibatan Masyarakat Sipil dan ahli gizi independen dalam pengawasan
harian.
