Makna Thawaf dalam Perspektif Cinta dan Zikrullah
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Thawaf merupakan suatu aktivitas fisik berupa mengelilingi Ka'bah. Mengelilingi Ka'bah melambangkan dinamika kehidupan manusia yang tiada henti, sedangkan berpusat pada Ka'bah menunjukkan bahwa manusia harus berprinsip hanya kepada Allah semata. Inilah pusat dari prinsip La ilaha illallah.
Gerakan berputar ke kiri, menurut Ary Ginanjar Agustian, menyerupai gerakan alam semesta yang mengarah ke inti sebagai pusat gaya tarik. Elektron mengelilingi inti atom, planet-planet seperti Merkurius hingga Pluto mengelilingi matahari, dan seluruh galaksi bergerak dalam orbitnya. Demikian pula seluruh unsur dan benda, dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari atom hingga galaksi, semuanya tunduk dan bertasbih kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-Fatihah: 2).
Pada makna yang lebih dalam, thawaf tidak hanya sebatas ritual ibadah haji di Mekkah. Thawaf juga merupakan simbol perputaran hati yang senantiasa berzikir kepada Allah SWT. Seseorang yang telah mencintai Allah akan selalu “berthawaf” dalam hatinya, dengan menyebut nama-Nya atas dasar cinta yang tulus.
Salah satu kisah yang menggambarkan “thawaf cinta” adalah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama dalam Islam. Ketika Nabi Muhammad meminta para sahabat untuk menginfakkan harta mereka, Abu Bakar memberikan hampir seluruh miliknya. Ia dan istrinya hanya menyisakan sehelai pakaian untuk digunakan bergantian.
Suatu ketika, saat hendak menunaikan salat, Abu Bakar tidak memiliki pakaian karena sedang dipakai istrinya. Ia pun membuat penutup tubuh dari daun-daunan agar dapat memenuhi panggilan salat. Dalam riwayat tersebut, diceritakan bahwa Malaikat Jibril muncul dengan pakaian serupa sebagai bentuk penghormatan atas keikhlasan Abu Bakar.
Ketika Nabi Muhammad SAW bertemu Abu Bakar, beliau menyampaikan bahwa Allah ridha kepadanya. Mendengar hal tersebut, Abu Bakar diliputi kebahagiaan yang mendalam hingga mengalami ekstase spiritual, yang digambarkan dengan gerakan berputar sebagai ekspresi cinta kepada Allah.
Praktik zikir seperti ini mencerminkan kedalaman cinta kepada Tuhan dan kenikmatan dalam merasakan kehadiran-Nya. Para pecinta Allah merasakan bahwa keridhaan Allah menjadi sumber kebahagiaan tertinggi, yang membawa mereka pada pengalaman spiritual yang melampaui kesadaran duniawi.
Berputar sebanyak tujuh kali dalam thawaf melambangkan perjuangan tanpa henti. Namun, perjuangan tersebut harus tetap berpusat pada prinsip tauhid. Allah-lah yang menjadi pusat dari segala nilai dan pegangan hidup. Inilah esensi integritas dalam zikir yang sesungguhnya.
Thawaf cinta pada hakikatnya adalah zikrullah, sebagai latihan untuk memperkuat keimanan yang dibangun melalui hati. Dengan menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, thawaf cinta akan membimbing manusia untuk tetap teguh dalam prinsip, membentuk nilai dan visi hidup, serta mengangkat potensi spiritual yang tersimpan dalam hati.
Tiada Tuhan selain Allah.
