Kembali ke Alam: Berpikir Tradisional dalam Kehidupan Modern
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan)
Jendelakita.my.id – Tulisan ini tidak bermaksud mengajak kembali pada kehidupan tradisional yang ditandai dengan hidup terisolasi di dalam gua. Tulisan ini hanya ingin mengungkapkan bahwa hidup harmonis dengan alam bukanlah sesuatu yang harus dijauhi.
Kehidupan komunitas, baik dalam lingkup kecil seperti rumah tangga maupun dalam skala besar seperti masyarakat dan negara, tidak bersifat statis, melainkan selalu berubah atau dinamis. Hal ini terjadi karena manusia senantiasa berupaya menyesuaikan diri terhadap perubahan alam dan zaman.
Dari proses tersebut lahirlah apa yang dikenal sebagai budaya atau kebudayaan. Dalam membahas kebudayaan, setidaknya kita perlu merujuk pada pendapat ahlinya, yaitu Koentjaraningrat, Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Indonesia. Dalam bukunya Metode Antropologi, beliau menyatakan bahwa kebudayaan memiliki sistem yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya adalah sistem perekonomian.
Manusia dalam memenuhi kebutuhannya sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang terus berubah. Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menyatakan bahwa kebudayaan merupakan hasil budi dan daya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup serta menghadapi tantangan alam dan zaman.
Kembali pada fokus tulisan ini, yaitu pentingnya menghidupkan kembali cara berpikir tradisional. Pada masa Orde Baru, Indonesia pernah mencapai swasembada pangan. Saat itu, tenaga hewan seperti kerbau dan sapi digunakan untuk membajak sawah. Namun, kemudian peran tersebut digantikan oleh mesin berbahan bakar solar karena pada masa itu bahan bakar mudah diperoleh dan relatif murah.
Seiring berjalannya waktu, para petani mulai merasakan tingginya biaya operasional penggunaan mesin, terutama untuk bahan bakar, pupuk, dan obat-obatan. Kondisi ini menimbulkan kesadaran bahwa sistem tradisional, seperti penggunaan tenaga kerbau dan sapi, memiliki keunggulan tersendiri.
Perubahan sistem secara tidak langsung berdampak pada produktivitas tanaman, seperti padi dan palawija. Penggunaan alat tradisional cenderung lebih hemat biaya, bahkan kotoran hewan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami. Sebaliknya, penggunaan alat modern seperti traktor membutuhkan biaya tinggi dan berpotensi merusak lingkungan, yang pada akhirnya dapat menurunkan hasil produksi pertanian.
Dewasa ini, masyarakat juga menghadapi dampak globalisasi, termasuk akibat dinamika politik internasional, seperti konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampak tidak langsung dari konflik tersebut adalah meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk avtur dan minyak lainnya.
Kondisi ini mendorong perubahan pola efisiensi energi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan pengurangan penggunaan kendaraan bermotor bagi aparatur sipil negara dengan menerapkan sistem kerja dari rumah (WFH) pada hari tertentu.
Selain itu, kenaikan harga bahan plastik juga dirasakan oleh para pedagang tradisional. Padahal, plastik sangat erat kaitannya dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Untuk mengatasi hal ini, sejumlah kepala daerah, seperti Pramono Anung, menganjurkan penggunaan daun pisang sebagai alternatif pengganti plastik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya harus bersinergi dengan alam untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Penggunaan plastik, baik secara langsung maupun tidak langsung, memberikan dampak buruk karena sulit terurai secara alami.
Meskipun upaya pengurangan penggunaan plastik telah dilakukan, hasilnya belum optimal. Di pasar tradisional, penggunaan plastik masih sangat dominan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran untuk kembali menggunakan bahan ramah lingkungan, seperti tas anyaman dari daun purun, rotan, atau bahan alami lainnya yang dapat digunakan berulang kali.
Pemikiran ini juga dipengaruhi oleh pandangan Dr. Sa’ad Nasuhim, Dekan Fakultas Pertanian saat penulis menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada sekitar tahun 1985. Beliau meneliti tentang dampak globalisasi terhadap penggunaan alat tradisional.
Sebagai penutup, terdapat nilai-nilai lokal yang dapat dijadikan pedoman, seperti dalam Simbur Cahaya, yaitu kompilasi adat istiadat masyarakat Sumatera Selatan yang mengatur hubungan harmonis antara manusia dan alam, khususnya dalam aturan berladang dan kehidupan masyarakat desa.
