Breaking News

Belajar Ilmu Sabar


Penulis:
 H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. 

Jendelakita.my.id –  Di dalam dunia sufi, seorang syekh tidak akan menerima seorang darwis dengan segera. Jalan sufi membutuhkan kesabaran, keteguhan, ketulusan, dan ketundukan. Tidak semua orang siap untuk memasukinya.

Seorang pemuda bernama Syibli datang kepada Junayd al-Baghdadi dan memohon untuk menjadi muridnya. Syibli adalah seorang gubernur wilayah penting di Persia, dan ia meninggalkan kedudukannya untuk menempuh jalan tasawuf.

Ia berkata kepada Junayd, “Anda telah dikenal sebagai seorang ahli mutiara (kearifan). Mohon berikanlah satu kepadaku.”

Junayd menjawab, “Engkau tidak akan mampu membelinya jika aku menjualnya, dan jika aku memberikannya secara cuma-cuma, engkau tidak akan menyadari nilainya. Engkau harus melakukan apa yang telah aku lakukan. Menyelamlah ke dalam lautan dan tunggulah dengan sabar hingga engkau menemukan mutiaramu sendiri.”

Syibli bertanya apa yang harus ia lakukan untuk menjadi muridnya. Junayd memintanya agar menjual belerang selama satu tahun. Ketika Syibli kembali, Junayd berkata bahwa pekerjaan tersebut hanya memberinya kemasyhuran dalam perdagangan. Ia kemudian diminta untuk pergi mengemis selama satu tahun.

Setelah satu tahun, Syibli kembali. Junayd berkata, “Sekarang engkau mulai menyadari nilai dirimu. Engkau telah melihat bahwa engkau tidak berharga dalam pandangan manusia. Kembalilah ke daerah asalmu dan mintalah maaf kepada orang-orang yang pernah kau pimpin.”

Syibli pun berjalan dari rumah ke rumah hingga tersisa satu orang. Ia berusaha mencarinya, tetapi tidak berhasil. Ia kemudian membagikan seratus ribu dirham sebagai sedekah, namun tetap belum menemukan ketenangan.

Setelah empat tahun, Syibli kembali kepada Junayd. Sang syekh melihat bahwa sisa-sisa kesombongan masih ada dalam dirinya, sehingga ia kembali diperintahkan untuk mengemis selama satu tahun.

Setiap hari Syibli membawa hasil mengemis kepada Junayd, dan diberikan kepada orang-orang miskin. Setelah satu tahun, Junayd akhirnya menerima Syibli sebagai darwis. Ia kemudian diperintahkan untuk melayani darwis lainnya.

Setelah satu tahun pelayanan, Junayd bertanya, “Apa yang kini engkau pikirkan tentang dirimu?”

Syibli menjawab, “Aku merasakan diriku sebagai makhluk Allah yang kecil.”

Junayd pun berkata, “Sekarang imanmu telah sempurna.”

Junayd telah memberikan “obat” yang paling sulit untuk menghilangkan kesombongan dalam hati Syibli. Proses tersebut memakan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya Syibli menjadi salah satu guru sufi besar.

Mengatakan “bersabarlah” mungkin tidak sulit. Namun, mempraktikkan kesabaran tidak semudah yang diucapkan. Sering kali kita mendengar seseorang berkata, “Kesabaran saya sudah habis.” Hal ini menunjukkan bahwa ia belum memahami hakikat sabar, karena sabar sejatinya tidak terbatas.

Allah Swt. berfirman: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155).

Oleh karena itu, jika merasa telah bersabar, hendaknya kita bercermin pada kisah Syibli dan merenungkan ajaran Junayd.

Bencana merupakan pelita bagi kaum makrifat, pengingat bagi para pencari jalan Allah, penguat bagi orang beriman, dan kehancuran bagi mereka yang lalai. Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman hingga ia diuji dengan cobaan, lalu ia ridha dan bersabar.