Berserah Diri pada Ketentuan Allah
Jendelakita.my.id. - Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Rah.a. mengatakan: janganlah kamu memilih untuk menarik kenikmatan-kenikmatan dan menolak setiap musibah. Nikmat itu, apabila memang menjadi bagianmu, akan tetap datang kepadamu, baik kamu berusaha menariknya ataupun berusaha menghindarinya. Sedangkan musibah merupakan suatu keadaan yang dapat menimpamu, yang jika memang menjadi bagianmu, ia akan tetap mendatangimu, baik kamu menghendakinya ataupun berusaha menghilangkannya dengan doa, bersabar, atau menguatkan diri kepada apa yang menjadi kerelaan dan keridhaan Sang Junjungan. Oleh karena itu, serahkanlah semuanya kepada Allah Swt., maka ketentuan-Nya akan berlaku atas dirimu. Apabila terdapat kenikmatan dalam dirimu, maka berusahalah untuk selalu bersyukur. Dan apabila kamu mendapat musibah, maka berusahalah untuk bersabar dan tetap berlaku sabar.
Seseorang juga dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, berusaha menerimanya, bahkan menghilangkan kegelisahan dalam dirinya sesuai dengan kadar kemampuan dirinya. Tetaplah berjalan di atas jalan Allah Swt., di mana kamu diperintahkan untuk menaati-Nya, agar kamu dapat sampai kepada Dzat Yang Mahatinggi. Pada saat itulah kamu akan menempati kedudukan orang-orang dari golongan shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Dengan demikian, kamu dapat melihat dengan mata kepala sendiri orang-orang yang telah mendahuluimu di sisi Sang Penguasa dan mengetahui kedekatan mereka kepada-Nya. Mereka menemukan berbagai bentuk kesenangan, kegembiraan, rasa aman, kemuliaan, dan kenikmatan di sisi Allah Swt.
Tinggalkanlah setiap ketakutan terhadap musibah yang mendatangimu. Janganlah engkau hanya terpaku dan merasa takut menghadapi kedatangannya. Panasnya api musibah itu tidaklah lebih dahsyat daripada api neraka Jahanam.
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari sebaik-baik manusia yang pernah dipangku oleh bumi dan dinaungi oleh langit, Rasulullah Saw., bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahanam itu berkata kepada seorang mukmin, ‘Wahai mukmin, lewatlah kamu di atasku. Sungguh, nyala apiku telah padam dengan cahaya-mu.’”
(Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (XXII/258, nomor 668)).
Maka tidaklah cahaya seorang mukmin yang mampu memadamkan kobaran api neraka Jahanam itu kecuali cahaya yang telah mendampinginya dalam kehidupan dunia, yaitu cahaya keimanan yang diperoleh melalui perjalanan hidup dan berbagai cobaan yang dihadapinya. Dengan cahaya tersebut, seorang mukmin mampu memadamkan panasnya ujian kehidupan.
Padamkanlah kobaran api itu dengan cahaya keimanan tersebut, dan temukanlah kesejukan dalam kesabaranmu, dalam kesesuaian dirimu kepada Sang Penguasa, serta dalam gerak langkah amal yang terdapat dalam dirimu.
Musibah yang datang kepadamu bukanlah untuk membinasakanmu. Akan tetapi, musibah itu hadir sebagai cobaan dan ujian untuk menyatakan keimananmu serta mempererat tali iman dalam dirimu. Pada hakikatnya, batin dari musibah itu akan menghadirkan kegembiraan di sisi Junjunganmu Swt., sebagai bentuk kemuliaan dan kebanggaan-Nya kepada hamba yang sabar dan teguh dalam iman.
Allah Swt. berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31).
Ringkasan dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Rah.a., Menyingkap Rahasia-Rahasia Ilahi (Futuhul-Ghaib), Jakarta, 2008. Renungan Jumat, 6 Maret 2026.
.jpeg)