Breaking News

Kebakaran di Mana-Mana, Masyarakat dan Lingkungan Terdampak


Tulisan oleh : Lutviana Ardian Rizki 

(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)

Jendelakita.my.id. - Tahun 2026, tepatnya pada bulan Agustus hingga September, banyak terjadi peristiwa yang kurang mengenakkan, termasuk bencana alam berupa kebakaran yang diduga berkaitan dengan kondisi kekeringan dan perubahan iklim di Indonesia. Pada tahun ini, sejumlah kasus kebakaran terjadi di berbagai wilayah, salah satunya kebakaran hutan di Kalimantan yang diduga disebabkan oleh ulah manusia yang ingin membuka lahan untuk ditanami kelapa sawit.

Berdasarkan bukti yang beredar, dua orang dewasa terlihat pulang dari perkebunan dengan membawa bekas jeriken minyak dan korek api. Mereka berpapasan dengan dua remaja yang sedang mengendarai sepeda motor menuju perkebunan. Awalnya, kedua remaja tersebut diminta untuk kembali pulang oleh kedua orang dewasa itu.

Sehari setelah kejadian tersebut, terjadi kebakaran besar di Kalimantan. Manusia dan hewan terkena dampak akibat kehilangan tempat tinggal serta terpapar asap yang tebal. Asap akibat kebakaran di Kalimantan bahkan menyebar hingga ke Malaysia sehingga sekolah-sekolah di Malaysia diliburkan.

Kebakaran tersebut sulit dipadamkan hingga tentara Jepang turut membantu proses pemadaman api di Kalimantan. Dampak kebakaran juga menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk, flu, dan demam. Banyak masyarakat mengalami sakit akibat terpapar asap kebakaran.

Kebakaran tidak hanya terjadi di Kalimantan. Di Sumatra Selatan, kebakaran juga terjadi di beberapa wilayah, mulai dari daerah Ogan Komering Ulu (OKU) hingga Kabupaten Musi Rawas. Salah satu contohnya terjadi di Bukit Besar, Musi Rawas, yang penyebabnya hingga kini belum diketahui.

Sekitar pukul 17.30, awalnya terlihat asap yang mulai muncul hingga kemudian menjelang petang terjadi kebakaran yang cukup dahsyat. Api bahkan terlihat dari berbagai desa di Kecamatan Tugumulyo. Proses pemadaman menjadi sulit karena akses transportasi menuju lokasi kebakaran cukup sulit. Kondisi tersebut menyebabkan petugas pemadam kebakaran mengalami kesulitan untuk mencapai titik api yang berada di atas bukit.

Warga Kabupaten Musi Rawas dan daerah sekitarnya turut terdampak asap kebakaran. Asap tersebut menyebabkan sesak napas dan mata merah. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi masyarakat sekitar. Untuk mengurangi paparan asap, sekolah-sekolah mengambil keputusan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Kebakaran tersebut terjadi tanpa alasan yang jelas. Kita juga belum mengetahui secara pasti apa penyebabnya. Apakah kebakaran tersebut terjadi karena seseorang membuang puntung rokok yang masih menyala atau memang sengaja dibakar, hal itu masih menjadi pertanyaan. Namun, dampaknya sangat nyata. Asap menyelimuti berbagai wilayah sehingga masyarakat kesulitan melakukan aktivitas di luar ruangan.

Pemerintah kota juga telah mengeluarkan surat edaran yang mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.