Breaking News

IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua

Foto bersama para pendeta peserta Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan “Mimbar Suci, Suara Hutan” yang diselenggarakan IRI Indonesia di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026). Dok. IRI Indonesia


Jendelakita.my.id. -  Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia mengajak gereja dan para pemimpin jemaat di Papua Barat Daya menjadikan mimbar sebagai ruang untuk menyuarakan perlindungan hutan dan keadilan ekologis.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan bertajuk “Mimbar Suci, Suara Hutan” yang digelar di Kota Sorong, Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini diikuti sedikitnya 61 pendeta dan pemimpin jemaat dari jejaring gereja di Papua Barat Daya.

Workshop tersebut bertujuan menghubungkan pesan iman dengan persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat. Hutan Papua dinilai bukan sekadar bentang alam, tetapi juga sumber pangan dan air, habitat keanekaragaman hayati, penyimpan karbon, pengatur tata air, serta ruang hidup Masyarakat Adat yang telah menjaganya secara turun-temurun.

Namun, keberadaan hutan menghadapi berbagai tekanan, mulai dari perubahan tata guna lahan, aktivitas industri ekstraktif, pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga perubahan iklim.

Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, mengatakan gereja memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan perlindungan hutan kepada umat. Menurutnya, persoalan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam merawat alam sebagai ruang kehidupan bersama.

Suasana diskusi kelompok para pendeta dari 78 klasis di Papua Barat Daya dalam menyusun materi khotbah untuk mendorong penyelamatan hutan Papua. Kegiatan yang diselenggarakan IRI Indonesia ini berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026). Foto: Dok. IRI Indonesia

“Papua Barat Daya tanpa hutan itu tidak ada suaranya lagi. Jadi, kita harus menyampaikan kepada publik dan seluruh umat bahwa mimbar gereja harus berbicara tentang hutan, dan mimbar iman harus berbicara tentang hutan.”

Hening juga mengingatkan pentingnya menjaga hutan Papua agar tidak mengalami kerusakan seperti wilayah lain.

“Jangan sampai suara hutan Papua menjadi suara kematian hutan Papua,” ujar Hening.

Ia mendorong para rohaniwan menghubungkan ayat-ayat Alkitab dengan fakta dan persoalan nyata yang dihadapi jemaat. Dengan begitu, khotbah tidak berhenti pada penjelasan teks, tetapi dapat menjadi pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Hening Parlan, Fasilitator Nasional IRI Indonesia, saat memberikan sambutan kepada 61 pendeta peserta Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan “Mimbar Suci, Suara Hutan” di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026).
Foto: Dok. IRI Indonesia

Hal senada disampaikan Pdt. Johan Kristiantara, perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sekaligus anggota Advisory Council IRI Indonesia.

“Kita perlu bergerak dari sekadar berteologi menuju keberpihakan. Kita perlu bergerak dari sekadar berolah pikiran, dari sekadar berolah teologi, menjadi bersaksi tentang hutan,” kata Johan.

Menurut Johan, pengalaman masyarakat dan persoalan lingkungan perlu menjadi bagian dari pemberitaan gereja.

“Mimbar juga harus menjadi tempat cerita kehidupan didengar,” ujarnya.

Sementara itu, Pendeta Renhard Ohoitimur dari Persekutuan Gereja-Gereja Papua Barat Daya menilai umat beragama memiliki kekuatan besar untuk mendorong tanggung jawab terhadap lingkungan.

Pdt. Johan Kristiantara, perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sekaligus anggota Advisory Council IRI Indonesia, saat memberikan sambutan dan membuka Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan “Mimbar Suci, Suara Hutan” di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026). Foto: Dok. IRI Indonesia.

“Umat beragama di Indonesia itu adalah umat yang paling powerful. Tetapi apakah kekuatan ini telah menjadikan kita semua menjadi kekuatan yang luar biasa untuk melakukan tanggung jawab? Jawabannya belum,” kata Renhard.

Ia menegaskan kerusakan hutan berdampak kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan agama maupun denominasi.

“Kita semua dari gereja, dari umat Islam, dari Katolik, Hindu, Buddha, semua kena dampaknya juga.”

Melalui workshop tersebut, peserta tidak hanya berdiskusi, tetapi juga menyusun naskah khotbah berdasarkan persoalan nyata di tengah masyarakat. Mereka diarahkan menghubungkan pengalaman jemaat dengan ayat Alkitab, merumuskan pesan iman, serta menentukan tindakan yang dapat dilakukan setelah khotbah disampaikan.

Hening berharap pesan perlindungan hutan dapat semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kita mau menikmati surga dunia melalui hutan Papua. Kalau hutan tidak ada, kita tidak bisa menikmati surganya lagi.”

Melalui mimbar gereja, perlindungan hutan diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata untuk menjaga kehidupan dan masa depan masyarakat Papua.