Strata Sosial Perkotaan dan Pedesaan
Nama : Rizni Ramadhani
Prodi : Pendidikan Agama Islam ( STAI BS )
Strata sosial itu kalau dibahas sebenarnya dekat banget sama kehidupan sehari hari, cuma seringnya kita tidak sadar kalau kita lagi ada di dalam sistem itu. Di pedesaan, pembagian strata sosial biasanya lebih kelihatan sederhana tapi justru kuat banget pengaruhnya. Orang orang di desa cenderung saling kenal satu sama lain, jadi status sosial itu bukan cuma dilihat dari harta saja tapi juga dari keturunan, usia, dan peran di masyarakat. Misalnya tokoh adat, kepala desa, atau orang yang dianggap dituakan itu punya posisi yang dihormati tanpa harus menunjukkan kekayaan yang berlebihan. Ada semacam nilai kebersamaan yang masih dijaga, jadi walaupun ada perbedaan status, jaraknya tidak terlalu terasa jauh dalam interaksi sehari hari.
Berbeda dengan di perkotaan, strata sosial itu biasanya lebih kompleks dan lebih terlihat jelas batasnya. Di kota, ukuran status sosial sering dikaitkan dengan pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan. Orang dengan jabatan tinggi atau pendidikan tinggi biasanya otomatis ditempatkan di strata yang lebih atas. Gaya hidup juga ikut mempengaruhi, mulai dari tempat tinggal, kendaraan, sampai cara bergaul. Kadang interaksi sosial di kota terasa lebih berjarak karena orang orang cenderung sibuk dengan urusan masing masing, jadi hubungan antar individu tidak seerat di desa. Hal ini bikin perbedaan strata sosial jadi lebih terasa dan kadang menciptakan kesenjangan yang cukup nyata.
Kalau dilihat lebih dalam, perbedaan strata sosial di desa dan kota juga dipengaruhi oleh nilai yang dianut masyarakatnya. Di desa, nilai kekeluargaan dan gotong royong masih sangat kuat, jadi orang dengan status lebih tinggi tetap berusaha membaur. Sementara di kota, nilai individualisme lebih dominan, sehingga setiap orang berlomba untuk meningkatkan statusnya masing masing. Ini bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain, tapi lebih ke bagaimana lingkungan membentuk cara pandang dan pola interaksi sosial.
Selain itu, mobilitas sosial juga berbeda antara desa dan kota. Di desa, perubahan status sosial biasanya berjalan lebih lambat karena kesempatan yang tersedia tidak sebanyak di kota. Seseorang mungkin perlu waktu lama untuk mengubah posisinya dalam masyarakat. Sedangkan di kota, peluang untuk naik atau turun dalam strata sosial lebih terbuka, misalnya melalui pendidikan atau pekerjaan. Tapi di sisi lain, persaingan di kota juga lebih ketat sehingga tidak semua orang bisa dengan mudah meningkatkan statusnya.
Dari sini bisa dilihat kalau strata sosial itu tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan dan budaya masyarakatnya. Pedesaan dan perkotaan punya karakter masing masing yang mempengaruhi bagaimana stratifikasi itu terbentuk dan dijalankan. Yang penting sebenarnya bukan sekadar memahami perbedaan itu, tapi juga bagaimana kita bisa bersikap bijak dalam melihat dan menjalani kehidupan sosial tanpa merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain.
