Overthinking at Night
Prodi: PAI (4A) STAI BUMI SILAMPARI
Malam sering kali menjadi waktu yang paling sunyi, tapi justru di situlah pikiran terasa paling ramai. Saat tubuh sudah lelah dan ingin beristirahat, otak malah sibuk memutar ulang kejadian hari ini, kemarin, bahkan hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan. Hal kecil yang siang tadi terasa biasa saja tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang mengganggu, seolah harus segera dipahami atau diselesaikan saat itu juga.
Overthinking di malam hari sering muncul karena tidak ada lagi distraksi. Tidak ada kesibukan, tidak ada suara ramai, hanya diri sendiri dan pikiran yang terus berjalan. Dalam kondisi ini, seseorang bisa terjebak dalam pertanyaan tanpa jawaban, seperti “kenapa aku bilang itu tadi?”, “apa orang lain menilai aku buruk?”, atau “bagaimana kalau besok semuanya tidak berjalan sesuai harapan?”. Pikiran-pikiran ini datang silih berganti, membuat hati gelisah dan sulit untuk tenang.
Akibatnya, waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk memulihkan energi justru berubah menjadi waktu penuh kecemasan. Mata mungkin terpejam, tetapi pikiran tetap terjaga. Hal ini bisa berdampak pada kualitas tidur, bahkan memengaruhi suasana hati dan produktivitas keesokan harinya.
Namun, penting untuk disadari bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dalam satu malam. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban segera. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah menerima bahwa beberapa hal memang belum bisa dikontrol atau dipahami saat ini. Memberi ruang pada diri sendiri untuk beristirahat juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan mental.
Malam seharusnya menjadi waktu untuk menenangkan diri, bukan menghakimi diri sendiri atas hal-hal yang sudah terjadi. Karena pada akhirnya, tidak semua pikiran yang muncul perlu dipercaya, dan tidak semua kekhawatiran akan benar-benar terjadi.
