Breaking News

Apakah Ibadah dan Akhlak Sehari-hari itu Ranah Privasi bagi Siswa?

 


Oleh: Harits Al Harrats Jawad

Apakah Ibadah dan Akhlak Sehari-hari itu Ranah Privasi bagi Siswa? 

Pertanyaan ini sering sekali muncul di ruang guru. “Pak, kalau ada siswa yang sholatnya bolong-bolong, itu urusan kita atau urusan orang tuanya?” Atau, “Bu, anak itu kalau di grup WA kelas ngomongnya kasar banget, apa kita perlu tegur padahal kejadiannya di luar jam sekolah?”

Di satu sisi, kita diajarkan bahwa ibadah itu urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak di rumah juga katanya ranah keluarga. Sekolah cukup mengurus nilai pelajaran akademis. Tapi di sisi lain, kita juga tahu tujuan pendidikan nasional bukan cuma buat anak pintar, tapi juga membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Jadi sebenarnya, ibadah dan akhlak siswa itu privasi atau tanggung jawab sekolah?

Kalau ditarik garis tegas, tidak semua hal bisa dipukul rata. Ada wilayah yang memang sepenuhnya privat. Contohnya, apakah seorang siswa bangun tahajud jam tiga pagi di rumah atau tidak, itu jelas bukan ranah sekolah untuk mengawasi. Itu murni hubungan personal dia dengan Allah, dan kita tidak punya hak atau alat untuk menilainya. Sekolah masuk ke wilayah itu justru bisa jadi bentuk pelanggaran privasi.

Tapi ceritanya berbeda kalau ibadah dan akhlak itu sudah muncul di ruang publik sekolah dan membawa dampak ke orang lain. Misalnya, saat jam istirahat tiba dan adzan Dzuhur berkumandang, tapi banyak siswa malah nongkrong di kantin. Atau ada siswa yang sengaja makan di kelas saat bulan Ramadhan padahal teman-temannya puasa. Ada juga yang chat-nya di grup kelas isinya umpatan ke teman. Di titik ini, sekolah tidak bisa lagi lepas tangan dengan alasan “itu privasi”. Karena perilakunya sudah mempengaruhi budaya sekolah dan kenyamanan warga sekolah lainnya. Di sinilah peran guru sebagai pendidik, bukan sebagai polisi akhlak. Pendekatannya adalah pembinaan lewat dialog, bukan penghakiman.

Lalu kenapa sekolah tidak boleh angkat tangan sepenuhnya? Karena realitanya, tidak semua anak dapat pendidikan agama yang cukup dari rumah. Banyak orang tua yang sibuk bekerja, sehingga sekolah dan madrasah akhirnya menjadi “orang tua kedua” bagi anak. Kalau sekolah bilang ibadah itu urusan rumah saja, lalu siapa yang akan membiasakan dan mencontohkan? Selain itu, akhlak adalah soft skill yang paling dicari di dunia kerja hari ini. Perusahaan lebih butuh orang yang jujur dan amanah ketimbang sekadar pintar tapi suka bohong. Kalau sekolah hanya fokus pada angka rapor, kita sedang mencetak lulusan yang paham teori “amanah” di buku PPKn, tapi praktiknya korupsi dana kas kelas.

Bahayanya kalau kita menganggap ibadah dan akhlak sebagai urusan privat sepenuhnya adalah munculnya kemunafikan struktural. Di RPP tertulis “Profil Pelajar Pancasila: Beriman dan Berakhlak Mulia”, tapi guru diam saja ketika ada siswa yang meledek temannya karena rajin sholat. Akhirnya sekolah hanya jadi pabrik nilai. Siswa hafal definisi sabar, tapi tidak pernah dilatih mempraktikkannya saat antre di kantin atau ketika bertengkar dengan teman.

Terus bagaimana cara sekolah ikut terlibat tanpa terkesan mengurusi privasi? Kuncinya bukan menjadi pengintai, tapi menjadi lingkungan yang menghidupkan nilai. Dimulai dari teladan. Guru yang sholat berjamaah di masjid sekolah, guru yang berani minta maaf saat salah, itu pelajaran akhlak yang jauh lebih membekas daripada satu jam ceramah. Daripada menggelar razia siapa yang tidak sholat, lebih baik bangun budaya “yuk, Dzuhur bareng”. Untuk anak yang belum mau, pendekatannya diajak ngobrol baik-baik, “Lagi ada masalah apa? Ada yang bisa Ibu/Bapak bantu?”

Gunakan momen untuk menanamkan nilai. Ketika ada kasus menyontek, hubungkan dengan konsep kejujuran dalam agama. Ketika ada siswa yang membantu temannya tanpa pamrih, apresiasi perilakunya dan kaitkan dengan akhlak Rasulullah. Sekolah juga tidak boleh berjalan sendiri. Catatan tentang perilaku siswa bukan untuk menghukum, tapi untuk dikomunikasikan dengan orang tua agar bisa bekerja sama membimbing anak. Penilaiannya pun bergeser, bukan untuk memvonis surga-neraka, tapi untuk refleksi: “Sejauh mana usaha kamu menjaga sholat minggu ini? Apa hambatannya?”

Jadi, apakah ibadah dan akhlak sehari-hari itu ranah privasi bagi siswa? Jawabannya tidak bisa hitam-putih. Urusan hati, dosa personal, dan hubungan spesifik dia dengan Tuhan adalah wilayah privat yang tidak boleh kita hakimi. Namun, pembiasaan, budaya, dan dampak sosial dari ibadah dan akhlak itu adalah tanggung jawab pendidikan. Tugas kita bukan mencetak malaikat, tapi menciptakan tanah yang subur. Kita sirami setiap hari lewat teladan dan pembiasaan, agar benih iman dan akhlak itu bisa tumbuh dengan sendirinya di dalam diri anak.

Karena kalau bukan sekolah yang peduli, lalu siapa lagi yang akan menemani mereka tumbuh menjadi manusia seutuhnya?


Gimana menurut kamu? Apakah kamu sering dilema menghadapi masalah ini di sekolah sebagai guru? Atau jangan-jangan kamu yang selama ini merasa itu merupakan ranah privasi yang tidak bisa diganggu?