Breaking News

Orang Islam Harus Kaya


Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  

Jendelakita,my.id. -  Orang Islam harus kaya. Kaya di sini tidak mesti dimaknai sebagai kekayaan materi, tetapi yang lebih utama adalah kaya “hati”. Dengan kaya hati, seseorang tidak memiliki penyakit hati dan akan ringan tangan terhadap sesama dalam menolong kesulitan orang lain. Idealnya, orang Islam selain kaya hati juga kaya materi, tentunya materi atau rezeki yang diperoleh secara halal. Kaya berarti memiliki banyak uang. Di zaman modern sekarang, dengan uang hampir semua hal dapat dibeli, seperti rumah mewah, mobil mewah, perhiasan, kekuasaan, dan lain sebagainya. Muslim yang kaya secara materi akan memberi banyak manfaat, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi umat yang sangat membutuhkan uluran tangannya.

Saat ini masih ada yang menjibir ketika melihat seorang Muslim yang taat beragama, seorang kiai, atau ustaz yang tetap mengejar dan mengembangkan berbagai bisnis. Hal seperti ini masih dianggap tidak lazim. Di benak sebagian orang, seorang kiai atau ustaz yang tugas utamanya membina jemaah seakan-akan hanya identik dengan salat, zikir dan zikir, bergaya hidup sederhana, serta jauh dari kekayaan yang bersifat duniawi. Padahal, orang saleh yang memiliki harta melimpah justru akan membawa manfaat besar bagi umat. Sahabat dekat Rasulullah yang kaya bergelimang harta banyak, dan hal ini dibolehkan oleh Rasulullah.

Rasulullah bersabda: sungguh terpuji harta yang suci itu bagi orang orang saleh. Selain itu juga beliau mengatakan; sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran.

Maka tidaklah mengherankan apabila muncul berbagai cerita tentang orang Islam yang murtad (pindah agama) hanya demi satu kardus mi instan, roti, dan biaya pendidikan bagi anak-anaknya. Keimanan mereka tergadaikan oleh kemiskinan. Na' uuzubillahimindaluiq.

Untuk apa kekayaan bagi orang Islam? Tentu saja untuk memperbanyak amal saleh, beribadah kepada Allah, berdakwah, membantu orang miskin, serta untuk kemaslahatan umat. Seluruh harta kekayaan tersebut menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dan total hanya karena Allah Swt.

Allah berfirman
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku (Adz-Dzariat: 56).

Coba renungkan, bagaimana seseorang dapat salat dengan tenang sementara perutnya kelaparan? Bagaimana dapat berzikir dengan khusyuk di tengah tangisan anak yang meminta susu dan makanan? Bagaimana mau bersedekah, berzakat, ataupun menunaikan ibadah haji bila tidak memiliki uang sama sekali? Bagaimana kita dapat menjaga harga diri sebagai Muslim bila untuk membangun pesantren dan masjid harus meminta-minta di jalanan? Bagaimana kita menjaga kehormatan agama bila ayat ayat Allah " dijual" dengan recehan di pemakaman, di dalam bus kota, dan di pasar?

Menjadi miskin adalah bahaya. Banyak kejadian dalam kehidupan ini menunjukkan bahwa ketika keluarga ditimpa kemiskinan, ada suami yang rela menjual istri dan anaknya demi mencukupi kebutuhan hidup. Karena miskin, ada ibu yang stres hingga membakar hidup anak-anaknya. Masih banyak contoh kejadian mengerikan yang disebabkan oleh kemiskinan. Ingat kasus bunuh diri anak usia 10 tahun yang menggantung diri akibat keinginannya untuk membeli buku dan perlengkapan sekolah tidak dapat dipenuhi oleh nenek dan ibunya.

Kemiskinan juga membuat seseorang terpaksa melakukan tindak pidana. Kemiskinan pula yang menggoyahkan iman hingga seseorang pindah agama karena diiming-imingi kehidupan yang lebih nyaman.