Bukit Barisan yang Terluka dan Masa Depan Sumatera
Oleh: M. Umar Husein
(
Jendelakita.my.id. - Sumatera sejak lama dikenal sebagai salah satu bentang alam tropis
paling penting di dunia. Pulau ini tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati,
tetapi juga memiliki sistem ekologi yang menopang kehidupan jutaan manusia. Di
jantung sistem itu berdiri sebuah rangkaian pegunungan panjang yang membelah
pulau dari utara ke selatan : Pegunungan Bukit Barisan.
Pegunungan
ini membentang sekitar 1.650 kilometer dari Aceh hingga Lampung. Ia bukan
sekadar bentang geografi, melainkan tulang punggung ekologis Pulau Sumatera.
Hutan-hutan yang tumbuh di sepanjang Bukit Barisan berfungsi sebagai penyerap
karbon, penyangga keanekaragaman hayati, sekaligus pengatur sistem hidrologi
bagi sebagian besar wilayah Sumatera.
Namun
dalam beberapa dekade terakhir, kawasan ini menghadapi tekanan yang semakin
besar. Ekspansi perkebunan sawit, aktivitas pertambangan, pembangunan jalan,
serta pembalakan liar terus menggerus tutupan hutan yang tersisa. Deforestasi
yang terjadi tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga masa depan
lingkungan dan ekonomi Sumatera.
Benteng Terakhir Hutan Tropis Sumatera
Di
sepanjang bentang Bukit Barisan terdapat tiga kawasan konservasi besar yang
menjadi benteng terakhir hutan tropis Sumatera, yaitu Taman Nasional Gunung
Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan
Selatan.
Ketiga
kawasan ini memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi sehingga diakui dunia
sebagai bagian dari situs warisan alam oleh UNESCO melalui program Tropical
Rainforest Heritage of Sumatra.
Kawasan
ini menjadi habitat penting bagi berbagai spesies langka dan endemik. Di
antaranya adalah Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, serta berbagai spesies
burung, reptil, dan tumbuhan yang hanya ditemukan di pulau ini.
Namun
status sebagai kawasan konservasi internasional tidak serta merta membuat hutan
di sekitarnya aman dari tekanan ekonomi. Sebagian besar deforestasi justru
terjadi di kawasan penyangga di luar taman nasional, tempat aktivitas
perkebunan dan pertambangan berkembang pesat.
Deforestasi,
Terus Menggerus
Data
dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir
kehilangan hutan masih terjadi di berbagai wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Di
Provinsi Jambi, sekitar 10 ribu hektare hutan hilang antara 2020 hingga 2024,
terutama di kawasan hulu Sungai Batanghari—sungai terpanjang di pulau ini. Di
Sumatera Selatan, sekitar 3.800 hektare hutan hilang di kawasan hulu Sungai
Musi dan Sungai Ogan.
Sementara
itu di Bengkulu tercatat sekitar 5.400 hektare kehilangan hutan, terutama di
kawasan hulu sungai Ketahun dan Air Manna. Di Lampung, kehilangan hutan
tercatat sekitar 200 hektare, sebagian besar di kawasan hulu Way Sekampung.
Angka-angka
ini mungkin tampak kecil jika dilihat secara nasional. Namun secara ekologis,
kehilangan hutan di kawasan hulu sungai memiliki dampak yang sangat besar.
Ancaman bagi Sistem Sungai Sumatera
Hutan di kawasan Bukit Barisan memiliki peran penting sebagai daerah
tangkapan air. Vegetasi hutan membantu tanah menyerap air hujan, menahan erosi,
dan menjaga stabilitas aliran sungai.
Ketika
tutupan hutan berkurang, kemampuan tanah untuk menyerap air juga menurun. Air
hujan mengalir lebih cepat ke sungai, menyebabkan banjir yang lebih sering pada
musim hujan dan kekeringan yang lebih parah pada musim kemarau.
Dampak
ini tidak hanya dirasakan di daerah pegunungan, tetapi juga di wilayah hilir.
Sungai-sungai besar seperti Sungai Musi, Sungai Komering, dan Sungai Batanghari
menjadi semakin rentan terhadap fluktuasi debit air.
Bagi
kota-kota di sepanjang sungai tersebut, perubahan ini dapat berdampak pada
ketersediaan air bersih, keamanan pangan, dan stabilitas ekonomi.
Konflik Satwa dan Manusia
Deforestasi
juga mempersempit habitat satwa liar. Ketika hutan terfragmentasi, satwa
seperti gajah dan harimau semakin sering memasuki kawasan permukiman atau
perkebunan.
Konflik
antara manusia dan satwa liar pun meningkat. Dalam banyak kasus, konflik ini
berakhir dengan kerugian bagi kedua belah pihak—baik manusia yang kehilangan
sumber penghidupan maupun satwa yang kehilangan habitatnya.
Situasi
ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan bukan hanya persoalan ekologi, tetapi
juga persoalan sosial.
Pelajaran dari Restorasi Hutan
Upaya
untuk memulihkan hutan yang rusak sebenarnya telah dilakukan di beberapa
tempat. Salah satunya adalah melalui program restorasi ekosistem yang dikelola
oleh PT Restorasi Ekosistem Indonesia di kawasan Harapan Rainforest di Jambi
dan Sumatera Selatan.
Kawasan
ini merupakan salah satu proyek restorasi hutan tropis terbesar di Asia
Tenggara. Tujuannya adalah memulihkan kembali hutan dataran rendah yang
sebelumnya mengalami degradasi akibat penebangan.
Pengalaman
bekerja di kawasan tersebut memberi saya pelajaran penting: memulihkan hutan
jauh lebih sulit dibandingkan menebangnya.
Selama
beberapa tahun saya bekerja sebagai Head of Community Development di kawasan
tersebut, saya melihat secara langsung bagaimana kompleksnya upaya menjaga
hutan di tengah tekanan ekonomi masyarakat sekitar.
Bagi
banyak masyarakat desa, hutan bukan sekadar ekosistem, tetapi juga sumber
penghidupan. Karena itu, pendekatan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan
regulasi dan patroli. Ia harus disertai solusi ekonomi yang memungkinkan
masyarakat tetap memperoleh penghasilan tanpa merusak hutan.
Tanpa
keterlibatan masyarakat lokal, upaya konservasi hampir pasti akan menghadapi
konflik yang berkepanjangan.
Menjaga Masa Depan Bukit Barisan
Deforestasi
di kawasan Bukit Barisan bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah persoalan masa
depan Sumatera.
Jika
kerusakan hutan terus berlangsung, maka dalam dua dekade ke depan Sumatera
bagian selatan berpotensi menghadapi krisis ekologis yang serius. Banjir,
kekeringan, konflik satwa, dan penurunan kualitas air sungai dapat menjadi
persoalan yang semakin sulit diatasi.
Menjaga
Bukit Barisan berarti menjaga sumber air, menjaga keanekaragaman hayati, dan
menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Pada
akhirnya, pilihan ada pada kita semua, apakah kita akan melindungi hutan yang
tersisa, atau membiarkannya hilang sedikit demi sedikit hingga generasi
mendatang hanya mengenalnya sebagai catatan dalam sejarah.
Hutan Bukit Barisan bukan sekadar bentang alam. Ia adalah warisan ekologis yang menentukan masa depan Sumatera.