Breaking News

Bukit Barisan yang Terluka dan Masa Depan Sumatera

 


Oleh: M. Umar Husein 

(Penulis merupakan Pengamat Lingkungan, pernah bertugas (2007-2010) sebagai The Head of Community Development PT REKI (Restorasi Ekosistem Kehutanan Indonesia) di Jambi & Sumatera Selatan.)

Jendelakita.my.id. - Sumatera sejak lama dikenal sebagai salah satu bentang alam tropis paling penting di dunia. Pulau ini tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki sistem ekologi yang menopang kehidupan jutaan manusia. Di jantung sistem itu berdiri sebuah rangkaian pegunungan panjang yang membelah pulau dari utara ke selatan : Pegunungan Bukit Barisan.

Pegunungan ini membentang sekitar 1.650 kilometer dari Aceh hingga Lampung. Ia bukan sekadar bentang geografi, melainkan tulang punggung ekologis Pulau Sumatera. Hutan-hutan yang tumbuh di sepanjang Bukit Barisan berfungsi sebagai penyerap karbon, penyangga keanekaragaman hayati, sekaligus pengatur sistem hidrologi bagi sebagian besar wilayah Sumatera.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, kawasan ini menghadapi tekanan yang semakin besar. Ekspansi perkebunan sawit, aktivitas pertambangan, pembangunan jalan, serta pembalakan liar terus menggerus tutupan hutan yang tersisa. Deforestasi yang terjadi tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga masa depan lingkungan dan ekonomi Sumatera.

Benteng Terakhir Hutan Tropis Sumatera

Di sepanjang bentang Bukit Barisan terdapat tiga kawasan konservasi besar yang menjadi benteng terakhir hutan tropis Sumatera, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Ketiga kawasan ini memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi sehingga diakui dunia sebagai bagian dari situs warisan alam oleh UNESCO melalui program Tropical Rainforest Heritage of Sumatra.

Kawasan ini menjadi habitat penting bagi berbagai spesies langka dan endemik. Di antaranya adalah Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, serta berbagai spesies burung, reptil, dan tumbuhan yang hanya ditemukan di pulau ini.

Namun status sebagai kawasan konservasi internasional tidak serta merta membuat hutan di sekitarnya aman dari tekanan ekonomi. Sebagian besar deforestasi justru terjadi di kawasan penyangga di luar taman nasional, tempat aktivitas perkebunan dan pertambangan berkembang pesat.

Deforestasi, Terus Menggerus

Data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kehilangan hutan masih terjadi di berbagai wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Di Provinsi Jambi, sekitar 10 ribu hektare hutan hilang antara 2020 hingga 2024, terutama di kawasan hulu Sungai Batanghari—sungai terpanjang di pulau ini. Di Sumatera Selatan, sekitar 3.800 hektare hutan hilang di kawasan hulu Sungai Musi dan Sungai Ogan.

Sementara itu di Bengkulu tercatat sekitar 5.400 hektare kehilangan hutan, terutama di kawasan hulu sungai Ketahun dan Air Manna. Di Lampung, kehilangan hutan tercatat sekitar 200 hektare, sebagian besar di kawasan hulu Way Sekampung.

Angka-angka ini mungkin tampak kecil jika dilihat secara nasional. Namun secara ekologis, kehilangan hutan di kawasan hulu sungai memiliki dampak yang sangat besar.

Ancaman bagi Sistem Sungai Sumatera

Hutan di kawasan Bukit Barisan memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air. Vegetasi hutan membantu tanah menyerap air hujan, menahan erosi, dan menjaga stabilitas aliran sungai.

Ketika tutupan hutan berkurang, kemampuan tanah untuk menyerap air juga menurun. Air hujan mengalir lebih cepat ke sungai, menyebabkan banjir yang lebih sering pada musim hujan dan kekeringan yang lebih parah pada musim kemarau.

Dampak ini tidak hanya dirasakan di daerah pegunungan, tetapi juga di wilayah hilir. Sungai-sungai besar seperti Sungai Musi, Sungai Komering, dan Sungai Batanghari menjadi semakin rentan terhadap fluktuasi debit air.

Bagi kota-kota di sepanjang sungai tersebut, perubahan ini dapat berdampak pada ketersediaan air bersih, keamanan pangan, dan stabilitas ekonomi.

Konflik Satwa dan Manusia

Deforestasi juga mempersempit habitat satwa liar. Ketika hutan terfragmentasi, satwa seperti gajah dan harimau semakin sering memasuki kawasan permukiman atau perkebunan.

Konflik antara manusia dan satwa liar pun meningkat. Dalam banyak kasus, konflik ini berakhir dengan kerugian bagi kedua belah pihak—baik manusia yang kehilangan sumber penghidupan maupun satwa yang kehilangan habitatnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan bukan hanya persoalan ekologi, tetapi juga persoalan sosial.

Pelajaran dari Restorasi Hutan

Upaya untuk memulihkan hutan yang rusak sebenarnya telah dilakukan di beberapa tempat. Salah satunya adalah melalui program restorasi ekosistem yang dikelola oleh PT Restorasi Ekosistem Indonesia di kawasan Harapan Rainforest di Jambi dan Sumatera Selatan.

Kawasan ini merupakan salah satu proyek restorasi hutan tropis terbesar di Asia Tenggara. Tujuannya adalah memulihkan kembali hutan dataran rendah yang sebelumnya mengalami degradasi akibat penebangan.

Pengalaman bekerja di kawasan tersebut memberi saya pelajaran penting: memulihkan hutan jauh lebih sulit dibandingkan menebangnya.

Selama beberapa tahun saya bekerja sebagai Head of Community Development di kawasan tersebut, saya melihat secara langsung bagaimana kompleksnya upaya menjaga hutan di tengah tekanan ekonomi masyarakat sekitar.

Bagi banyak masyarakat desa, hutan bukan sekadar ekosistem, tetapi juga sumber penghidupan. Karena itu, pendekatan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan regulasi dan patroli. Ia harus disertai solusi ekonomi yang memungkinkan masyarakat tetap memperoleh penghasilan tanpa merusak hutan.

Tanpa keterlibatan masyarakat lokal, upaya konservasi hampir pasti akan menghadapi konflik yang berkepanjangan.

Menjaga Masa Depan Bukit Barisan

Deforestasi di kawasan Bukit Barisan bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah persoalan masa depan Sumatera.

Jika kerusakan hutan terus berlangsung, maka dalam dua dekade ke depan Sumatera bagian selatan berpotensi menghadapi krisis ekologis yang serius. Banjir, kekeringan, konflik satwa, dan penurunan kualitas air sungai dapat menjadi persoalan yang semakin sulit diatasi.

Menjaga Bukit Barisan berarti menjaga sumber air, menjaga keanekaragaman hayati, dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, pilihan ada pada kita semua, apakah kita akan melindungi hutan yang tersisa, atau membiarkannya hilang sedikit demi sedikit hingga generasi mendatang hanya mengenalnya sebagai catatan dalam sejarah.

Hutan Bukit Barisan bukan sekadar bentang alam. Ia adalah warisan ekologis yang menentukan masa depan Sumatera.