Breaking News

Keberanian untuk Bermimpi Besar




Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  

Jendelakita.My.Id – Ketika kita masih duduk di sekolah dasar, guru kerap memotivasi dengan menanyakan cita-cita atau impian terbesar yang hendak dicapai. Di antara kita ada yang menjawab ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, presiden, menteri, dan lain sebagainya. Semua anak mengungkapkan cita-citanya dengan senang hati. Saya kira cita-cita tersebut tidaklah salah. Hanya saja, sering kali ujung dari cita-cita itu adalah bagaimana caranya menjadi orang hebat dengan banyak materi. Pada intinya, yang dicari adalah kekayaan materi dan kebahagiaan jasmaniah.

Pertanyaannya, pernahkah kita menyaksikan hingga saat ini ada seorang anak yang ketika ditanyai impian dan cita-citanya justru menjawab ingin agar diampuni, dikasihi, dan menjadi kaya hati? Barangkali Anda akan merenung ketika mendengar pertanyaan tersebut. Seolah-olah hal itu tidak mungkin ada, atau kalaupun ada, terasa janggal. Bahkan, mungkin muncul anggapan bahwa tidak realistis jika seorang anak memiliki cita-cita seperti itu.

Ingat sabda Nabi, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikan nya, yahudi, Nasrani atau majusi.” Hadis ini pada dasarnya mengarah pada pernyataan tersebut. Sekarang kita bertanya, jika anak Anda memiliki cita-cita agar diampuni, dikasihi, dan kaya hati, apakah Anda akan merasa bingung, menganggapnya aneh, tidak realistis, atau justru bahagia? Baiklah, jika masih penasaran, perhatikan kisah cita-cita seorang anak kecil yang luar biasa berikut ini.

Pada tahun ke-9 Hijriah, Madinah mulai ramai dikunjungi para delegasi dari berbagai penjuru Jazirah Arab untuk berbaiat kepada Rasulullah Saw. Di antaranya terdapat delegasi Tujib dari Yaman. Mereka melakukan perjalanan dengan kendaraan unta dan membawa perbekalan, melintasi gurun yang cukup jauh. Ketika unta dan barang bawaan mereka ditambatkan, seorang anak kecil ditugaskan untuk menjaganya. Sementara itu, rombongan delegasi berbaiat kepada Rasulullah Saw dan menerima banyak hadiah dari Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw kemudian bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang tertinggal?” Para delegasi menjawab bahwa masih ada seorang anak yang menjaga tunggangan mereka. Nabi pun ingin bertemu dengan anak tersebut sebelum rombongan kembali. Anak itu dipanggil dan berkata kepada Rasulullah Saw, “Aku salah satu anggota delegasi ini. Kau telah memenuhi kebutuhan mereka. Sekarang penuhilah kebutuhan ku.” Rasulullah Saw bertanya, “Apa kebutuhan mu?” Anak itu tidak meminta harta sedikit pun.

Nabi sangat terkesan dengan perkataannya yang benar-benar mengejutkan, mengingat usianya masih kecil. Anak itu berkata, “Sudikah engkau memohon kepada Allah agar aku selalu diampuni, dikasihi, dan menjadi kaya hati?” Dengan senang hati Rasulullah Saw pun berdoa, “Ya Allah ampunilah dia, kasihilah dia, dan jadikanlah hatinya kaya.” Wajah anak itu tidak pernah hilang dari ingatan Nabi. Ketika bertemu kembali dengan kaumnya di Mina saat Haji Wada’, beliau menanyakan kabar anak tersebut. Mereka menjawab bahwa belum pernah melihat orang yang lebih qanaah terhadap pemberian Allah selain dia, dan hal itu terjadi karena doa Nabi.

Anak tersebut kemudian hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang paling zuhud dan paling qanaah. Setelah Nabi wafat dan sebagian penduduk Yaman menyatakan keluar dari Islam, ia berpidato di tengah-tengah kaumnya, mengingatkan tentang Allah dan agama, sehingga tidak satu pun dari mereka yang keluar dari Islam. Abu Bakar r.a. juga menaruh perhatian besar kepadanya karena Nabi pun memperhatikannya. Ia selalu menanyakan keadaannya dan berpesan kepada Zaid bin Labid, seorang pembantu pemerintahan di Yaman, agar anak tersebut diperlakukan dengan baik.

Itulah seharusnya cita-cita yang diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Jika orang tua hanya menginginkan anak memiliki cita-cita duniawi agar menjadi kaya, maka ketahuilah bahwa cita-cita tersebut bersifat sementara. Itu baru disebut cita-cita besar. Adapun cita-cita sejati atau terbesar adalah cita-cita yang mampu menjadikan hati kaya dan bahagia.

Semoga para orang tua senantiasa menanamkan cita-cita terbesar kepada anak-anaknya agar menjadi pribadi yang kaya hati, atau dalam istilah agama disebut anak yang saleh. Dengan tercapainya cita-cita kaya hati—apa pun profesinya—seorang anak akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, sekaligus dapat menolong kedua orang tuanya kelak.