Breaking News

Indahnya Membaca Surat dari Sang Kekasih

 


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  

Jendelakita.My.Id – Pernahkah kita menerima surat cinta dari sang kekasih, dan bagaimana perasaan yang muncul saat membacanya? Pertanyaan ini mengajak kita merenung lebih dalam: jika kita mengaku mencintai Allah dan menjadikan-Nya sebagai kekasih sejati, namun sama sekali tidak pernah membaca surat cinta-Nya, apalagi mengamalkannya, bagaimana tanggapan Allah terhadap sikap tersebut?

Keprihatinan Allah terhadap hamba-Nya tergambar dalam ungkapan yang terdapat dalam Kitab Taurat berikut ini:
“Hamba-Ku, apakah kamu tidak segan dan malu dengan sikap mu terhadap Aku?. Jika kamu menerima sepucuk surat dari kawanmu ketika kamu sedang berjalan di jalan raya, maka kamu akan berhenti mencari tempat yang nyaman untuk membacanya dengan penuh perhatian dan berusaha memahami setiap perkataan yang terkandung di dalamnya. Tetapi terhadap Kitab Ku, yang di dalamnya aku telah menerangkan segala sesuatu dan berkali kali telah menegaskan hal hal yang penting agar kamu memikirkan dan memahami, tetapi kamu memperlihatkan sikap acuh tak acuh. Apakah kamu menganggap Aku ini lebih rendah dari kawanmu?” Ungkapan ini dilanjutkan dengan teguran yang lebih mendalam: “Wahai hamba Ku, sebagian dari rekan rekanmu duduk bersamamu, dan kamu memberikan segala perhatian mu kepada mereka. Kamu mendengar dan berusaha memahami mereka. Jika ada yang menyela, kamu akan menahan nya dengan isyarat tanganmu. Aku berkata kata melalui Kitab Ku tetapi engkau tidak memperdulikan Ku. Apakah kamu menganggap Aku ini lebih hina dari kawan kawan mu.”

Setelah menyimak ungkapan tersebut, patut dipertanyakan kondisi batin kita: apakah mata hati masih tertutup, telinga hati masih tuli, nalar masih congkak, dan mulut hati masih bungkam? Ataukah jangan-jangan suara hati telah tertutup sehingga Allah benar-benar mengunci kalbu manusia, sebagaimana firman-Nya: “Allah telah mengunci hati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS. Al-Baqarah: 7). Na‘udzubillahi min dzalik, jika seseorang telah tertimpa penyakit hati semacam ini, maka hendaklah memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah.

Bukti cinta kepada Allah salah satunya adalah dengan membaca surat cinta-Nya, yaitu Al-Qur’an, secara istiqamah dan mengamalkannya dengan baik. Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an akan menjadi terang benderang, sejuk di hati, membuat malaikat betah singgah, serta menjadikan setan lari tunggang-langgang kepanasan. Hal ini ditegaskan dalam riwayat Abu Hurairah ra., yang menyatakan bahwa rumah yang dibacakan Al-Qur’an akan dipenuhi kebaikan dan keberkahan, dikelilingi malaikat, dan dijauhi setan, sedangkan rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an akan kehilangan keberkahan, ditinggalkan malaikat, dan didatangi setan.

Kisah tentang Usaid bin Hudhair juga memperkuat keutamaan membaca Al-Qur’an. Ketika beliau membaca Al-Qur’an, tampak sejenis awan meliputinya, dan Rasulullah saw. menjelaskan bahwa awan tersebut adalah malaikat-malaikat yang berkumpul untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Karena jumlahnya yang sangat banyak, malaikat-malaikat itu terlihat seperti awan. Ibnu Mas‘ud dan beberapa sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, rumah yang kosong adalah rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Al-Qur’an yang mulia.