Di Tengah Moderenisasi Peran Ai di ruang Produksi Berita, Radio dan Jurnalistik
Jendelakita.my.id. – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI kini mulai masuk ke ruang produksi berita radio dan jurnalistik. Kehadirannya tidak untuk menggantikan jurnalis, tapi justru membantu kerja redaksi jadi lebih cepat dan efisien.
AI Jadi "Asisten Riset" Jurnalis
Dalam tahap pra-produksi, AI dipakai untuk mencari data dan merangkum informasi. Contohnya, AI bisa membaca ratusan dokumen laporan pemerintah atau data statistik dalam hitungan detik, lalu menyajikannya dalam poin-poin penting. Ini memotong waktu riset jurnalis yang biasanya bisa berjam-jam.
Bantu Menulis Naskah Berita Radio
Untuk radio, kecepatan adalah kunci. AI kini bisa mengubah siaran pers atau hasil wawancara yang panjang menjadi naskah berita radio 30 detik dengan gaya bahasa yang ringkas dan mudah diucapkan penyiar. Jurnalis tinggal cek fakta dan edit bahasanya agar tetap punya “rasa manusia”.
Cloning Suara dan Baca Berita Otomatis
Beberapa stasiun radio sudah uji coba teknologi _text-to-speech_ berbasis AI. Cukup ketik naskah, AI bisa membacakannya dengan suara mirip penyiar asli. Ini berguna untuk berita _breaking news_ tengah malam saat penyiar tidak stand-by. Meski begitu, untuk program utama, suara manusia tetap jadi pilihan utama karena emosi dan intonasinya lebih natural.
Transkrip Wawancara dalam Hitungan Menit
Dulu, jurnalis butuh 1 jam untuk mengetik hasil wawancara 15 menit. Sekarang AI bisa mengubah rekaman suara jadi teks transkrip secara otomatis dengan akurasi di atas 90%. Jurnalis bisa langsung cari kutipan penting tanpa putar ulang rekaman berulang kali.
Deteksi Hoaks dan Cek Fakta Lebih Cepat
AI juga dilatih untuk memindai berita viral di media sosial dan mencocokkannya dengan database fakta. Jika ada konten yang janggal, sistem akan memberi tanda ke editor untuk diverifikasi lebih lanjut. Ini membantu redaksi menyaring informasi sebelum disiarkan ke publik.
Tanggapan Praktisi
Vijay, Salah satu Penyiar Di Radio Citra lubuk Linggau, mengatakan AI sangat membantu kerja timnya. “Anggap saja AI ini seperti magang yang super cepat. Tapi keputusan akhir tetap di tangan editor manusia. Karena jurnalistik butuh nurani, verifikasi lapangan, dan tanggung jawab etik. Itu nggak bisa diganti mesin,” ujarnya, Senin, 20/4/2026.
Tantangan yang Muncul
Meski membantu, penggunaan AI juga memunculkan tantangan baru. Isu etika, keakuratan data, dan potensi hilangnya pekerjaan untuk level pemula jadi sorotan. Dewan Pers mengingatkan bahwa produk jurnalistik yang dibantu AI wajib diberi keterangan agar publik tahu.Kedepan, AI diprediksi akan jadi “teman kerja” standar di ruang redaksi. Bukan untuk mengganti jurnalis, tapi untuk memberi jurnalis lebih banyak waktu berpikir, liputan mendalam, dan turun ke lapangan.
Reporter: Tema Luriska
Lubuk Linggau 20 April 2026
