Breaking News

Perasaan yang Dihilangkan

Nama: Hawa Ihsani 

Prodi: PAI (4A) Stai Bumi Silampari 

Ada perasaan yang tidak benar-benar hilang, hanya sengaja disingkirkan. Bukan karena sudah tidak ada, tetapi karena dianggap terlalu berat untuk dipertahankan. Perasaan itu perlahan didorong ke sudut hati, disembunyikan di balik kesibukan, tawa, dan sikap seolah semuanya baik-baik saja.

Sering kali, seseorang memilih menghilangkan perasaannya sendiri demi menjaga keadaan tetap tenang. Ia menahan kata-kata yang ingin diucapkan, menelan emosi yang seharusnya bisa dilepaskan. Bukan karena tidak berani, tetapi karena takut jika semuanya justru menjadi lebih rumit.

Perasaan yang dihilangkan biasanya tidak pergi begitu saja. Ia tetap ada, hanya berubah bentuk. Kadang muncul sebagai kelelahan yang tidak jelas sebabnya, kadang sebagai rasa kosong yang sulit dijelaskan. Bahkan, dalam diam, perasaan itu bisa kembali hadir melalui hal-hal kecil yang mengingatkan.

Ada kalanya seseorang merasa lebih mudah berpura-pura tidak peduli daripada menghadapi apa yang sebenarnya dirasakan. Karena menghadapi perasaan berarti juga siap menerima kemungkinan yang tidak diinginkan. Maka, menghilangkan perasaan dianggap sebagai cara untuk melindungi diri.

Namun, perasaan tidak diciptakan untuk diabaikan. Ia hadir untuk dipahami, bukan disembunyikan selamanya. Mengakui apa yang dirasakan bukan berarti lemah, justru itu langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua perasaan harus diselesaikan dengan cepat, tetapi memberi ruang untuk merasakannya adalah hal yang penting.

Pada akhirnya, perasaan yang dihilangkan tidak benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dipahami, agar tidak lagi menjadi beban yang diam-diam mengganggu. Karena terkadang, yang dibutuhkan bukanlah menghapus perasaan, melainkan menerima bahwa perasaan itu pernah ada dan memang berarti.