Breaking News

Ujian Mukmin Itu Berdasarkan Kadar Keimanannya


Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan)

Jendelakita.my.id. - Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Ra. mengatakan bahwa Allah Swt. senantiasa memberikan cobaan dan ujian kepada hamba-Nya yang mukmin sesuai dengan kadar keimanannya. Barang siapa yang besar dan kuat imannya serta senantiasa meningkat, maka semakin besar pula ujian yang diterimanya. Seorang rasul, ujian dan cobaannya tentu lebih berat dan besar daripada ujian dan cobaan seorang nabi. Hal ini karena keimanan seorang rasul lebih besar dan lebih kuat. Sedangkan seorang nabi, ujiannya dan cobaannya lebih besar daripada seorang wali.

Ujian seorang wali badal lebih berat daripada ujian seorang wali biasa. Ujian seseorang itu berdasarkan tingkat keimanan dan keyakinannya. Dasar dari hal tersebut adalah hadis Rasulullah saw., “Sesungguhnya kami, para nabi, adalah golongan yang paling berat ujiannya, kemudian orang yang paling menyerupai kami, lalu yang menyerupai mereka, dan begitulah seterusnya.” (Imam Ahmad, 1/172; at-Tirmidzi, 2398; Ibnu Majah, 4023).

Allah Swt. melanggengkan ujian kepada para junjungan yang mulia tersebut sampai mereka kembali ke haribaan Tuhan. Mereka tidak akan pernah terlalaikan dari kesadaran mereka karena Allah mencintai mereka. Mereka adalah golongan orang yang mencintai kebenaran. Sedangkan orang yang mencintai, selamanya tidak akan pernah mempunyai pilihan selain kepada yang dicintainya.

Ujian merupakan penculik hati dan pengikat jiwa. Ia mencegah para hamba agar tidak cenderung kepada selain tujuan mereka dan agar tidak berpegang serta merasa aman kepada selain Sang Pencipta mereka. Apabila hal tersebut terus berlangsung, maka hawa nafsu mereka akan menjadi lemah, jiwa mereka menjadi tunduk, dan yang hak akan terlihat sehingga dapat dibedakan dari yang batil.

Segala bentuk syahwat dan keinginan akan menjadi kecil dan mengerut. Semua kecenderungan kepada kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan dunia maupun akhirat akan melebur seluruhnya menuju sesuatu yang mengiringi jiwa. Yang tersisa hanyalah ketergantungan kepada janji Allah Swt., ridha terhadap semua qadha-Nya, qanaah (menerima) terhadap semua pemberian-Nya, bersabar atas semua ujian-Nya, serta merasa aman dari kejahatan sesama makhluk dengan selalu bersandar kepada-Nya. Kemudian kekuatan dan kekuasaan hati akan menjadi kokoh dan menguat. Pada akhirnya, sifat kewalian akan tampak pada seluruh anggota tubuhnya.

Ujian pada hakikatnya bertujuan memberikan kekuatan kepada hati dan keyakinan, mewujudkan keimanan dan kesabaran, serta melemahkan hawa nafsu. Sesungguhnya setiap rasa sakit dan penderitaan yang datang kepada seorang mukmin, apabila di dalam dirinya terdapat kesabaran, keridhaan, dan kepasrahan, maka Allah akan memberikan ketentuan-Nya yang terbaik.

Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7).

Ringkasan dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Futuhul Ghaib, Maqalah ke-22.