Breaking News

Permasalahan Sosial di Perkotaan dan Pedesaan dalam Perspektif Sosiologi

 



Penulis: Busro Karim (Mahasiswa STAI - Bumi Silampari)

Jendelakita.my.id. - Permasalahan sosiologi di wilayah perkotaan merupakan fenomena sosial yang muncul seiring dengan perkembangan kota yang pesat, baik dari segi ekonomi, jumlah penduduk, maupun kompleksitas kehidupan sosial. Salah satu persoalan utama yang sering terjadi adalah kesenjangan sosial ekonomi, yaitu adanya jurang yang besar antara kelompok masyarakat kaya dan miskin. Selain itu, muncul pula permukiman kumuh sebagai akibat dari urbanisasi yang tidak terkendali, di mana banyak penduduk desa berpindah ke kota tanpa diimbangi dengan ketersediaan hunian yang layak. Di sisi lain, pengangguran dan meningkatnya pekerjaan informal juga menjadi masalah yang cukup serius karena persaingan kerja di kota sangat tinggi. Kondisi ini sering kali memunculkan sikap individualisme yang semakin kuat serta melemahnya solidaritas sosial di antara warga kota, sehingga hubungan sosial menjadi lebih renggang.

Permasalahan lainnya yang tidak kalah penting adalah meningkatnya kriminalitas perkotaan yang kerap dipicu oleh tekanan ekonomi dan lemahnya kontrol sosial di tengah masyarakat yang heterogen. Selain itu, kemacetan dan masalah transportasi juga menjadi fenomena yang hampir selalu ditemui di kota-kota besar, terutama karena pertumbuhan jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas infrastruktur jalan yang tersedia. Kota juga menghadapi persoalan pencemaran lingkungan, seperti polusi udara, penumpukan sampah, serta kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri dan mobilitas manusia yang tinggi. Kondisi kehidupan kota yang serba cepat dan kompetitif turut memicu stres serta tekanan hidup yang tinggi bagi masyarakatnya. Di samping itu, perbedaan kelas sosial, budaya, dan kepentingan sering menimbulkan fragmentasi sosial serta konflik antarkelompok. Keseluruhan kondisi tersebut dapat memicu terjadinya disorganisasi sosial, yaitu melemahnya norma dan nilai sosial dalam masyarakat akibat tingginya mobilitas serta heterogenitas penduduk kota.

Sementara itu, permasalahan sosiologi di wilayah pedesaan memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah perkotaan. Salah satu masalah utama adalah kemiskinan struktural yang dialami oleh petani, di mana meskipun produksi pertanian cukup tinggi, keuntungan yang diperoleh relatif kecil karena sistem pasar yang tidak adil serta dominasi tengkulak. Selain itu, terjadi pula fenomena urbanisasi generasi muda, yaitu perpindahan tenaga kerja produktif dari desa ke kota karena minimnya peluang kerja di desa. Banyak generasi muda lebih memilih bekerja sebagai karyawan atau pekerja di perusahaan karena dianggap lebih menjanjikan dibandingkan bertani di desa.

Permasalahan lain yang sering muncul adalah ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, terutama dalam hal fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur yang masih tertinggal. Perekonomian desa juga cenderung bergantung pada sektor pertanian sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi harga pasar dan perubahan iklim. Di beberapa daerah, terjadi pula eksploitasi sumber daya desa oleh pihak luar, seperti perusahaan yang menguasai lahan dan hasil alam, sementara masyarakat lokal hanya berperan sebagai pekerja. Kondisi tersebut sering memicu konflik agraria atau sengketa lahan antara masyarakat, perusahaan, dan pemerintah.

Selain itu, kualitas pendidikan di pedesaan masih tergolong rendah karena keterbatasan akses terhadap fasilitas pendidikan yang memadai, sehingga mobilitas sosial masyarakat berjalan lebih lambat. Keterbatasan akses dan fasilitas kesehatan juga menjadi masalah serius yang berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat desa. Di era digital saat ini, masyarakat pedesaan juga menghadapi kesenjangan teknologi dan informasi akibat terbatasnya akses terhadap teknologi digital. Tidak jarang pula masyarakat desa mengalami ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bantuan pemerintah, yang dalam jangka panjang dapat melemahkan kemandirian ekonomi masyarakat desa.