Breaking News

Menjaga Kesempurnaan Puasa melalui Adab yang Wajib



Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  

Jendelakita,my.id. -  Sesungguhnya puasa memiliki banyak adab sebagai penyempurna. Adab-adab tersebut terbagi menjadi dua, yaitu adab-adab wajib yang harus diperhatikan dan dijaga oleh orang yang berpuasa serta adab-adab sunnah yang selayaknya dikerjakan.

Di antara adab yang wajib adalah orang yang berpuasa harus melaksanakan ibadah lain yang telah Allah wajibkan, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Salah satu contoh yang paling konkret adalah sholat wajib, yang merupakan rukun Islam yang paling mendasar setelah dua kalimat syahadat. Sholat ini wajib diperhatikan dengan menjaga rukun, kewajiban, syarat, dan waktu pelaksanaannya. Hal ini merupakan bagian dari ketakwaan yang juga menjadi alasan diwajibkannya puasa atas umat ini.

Menyia-nyiakan sholat akan meniadakan ketakwaan dan menyebabkan turunnya azab. Allah berfirman:

Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek), yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menuai kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk Surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. QS. Maryam: 58-60.

Ada orang yang berpuasa, tetapi meremehkan sholat, padahal hal itu merupakan kewajibannya. Ada juga orang yang benar-benar melampaui batas dalam masalah sholat, sampai-sampai ia melaksanakan sholat di luar waktu yang ditentukan disebabkan tidurnya. Ini merupakan suatu kemurkaan yang teramat besar dan benar-benar termasuk sikap menyia-nyiakan sholat.

Di antara adab-adab yang wajib dilakukan oleh orang yang berpuasa adalah menjauhi seluruh perkara yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contohnya adalah tidak boleh berdusta. Yang dimaksud dengan dusta ialah memberikan kabar yang tidak sesuai dengan realita. Perbuatan dusta yang paling besar adalah dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman:

Dan janganlah mengatakan terhadap apa yang disebut sebut oleh lidahmu secara dusta; ini halal dan ini haram, untuk mengada adakan kebohongan kepada Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka azab yang pedih (QS. An-Nahl: 116-117).

Orang yang berpuasa wajib menjauhi ghibah, yaitu menyebutkan sesuatu yang tidak disukai dari saudaranya tanpa sepengetahuannya, baik itu memang benar ataupun dusta, baik berkaitan dengan bentuk fisiknya untuk menyebarkan aib atau menghina dirinya.

Rasulullah Saw pernah ditanya tentang ghibah, lalu beliau menjawab:

Ghibah itu adalah engkau sebut saudaramu dengan perkataan yang tidak disukai nya. Ada yang berkata; bagaimana pendapatmu jika perkataan tadi memang benar benar terdapat pada diri saudara ku?. Beliau menjawab: jika perkataan mu itu benar benar terdapat dalam diri saudaramu, maka engkau telah berbuat ghibah kepada nya. Adapun jika tidak demikian, maka engkau telah berdusta tentang dirinya (HR. Muslim).