Breaking News

Seliter BBM, Sejuta Pelajaran Kisah Pagi Yang Tak Terlupakan

Jendelakita.My.Id

Sebuah pengalaman unik dan penuh makna dialami oleh penulis saat hendak mengantar anak ke sekolah. Berawal dari insiden kecil yang kerap dikaitkan dengan mitos, kejadian ini justru membuka mata tentang pentingnya empati dan kebaikan hati di tengah masyarakat.

Pagi ini, penulis hendak mengantar anak ke sekolah seperti biasa. Namun, saat membuka pintu rumah, seekor cicak mati tiba-tiba jatuh tepat di atas tubuh “Aduh, sial ini,” gumam saya dalam hati, meski sadar bahwa kejatuhan cicak hanyalah mitos yang tak berdasar.

Namun, serangkaian kejadian tak mengenakkan seolah memperkuat mitos tersebut. Di tengah perjalanan, motor tua yang saya dikendarai mendadak mogok karena kehabisan minyak dan lebih apes lagi, dompet dan ponsel tertinggal di rumah, dan saku jaket yang biasanya menyimpan uang darurat pun kosong.

Dengan penuh tekad, saya mendorong motor menuju warung penjual bensin. Sayangnya, warung pertama sepi. Saya pun menyeberang ke warung seberang, berharap bisa mendapatkan bantuan. Di sana, saya bertemu seorang ibu yang sedang berbincang dengan pemilik warung. Saya pun memberanikan diri meminta tolong agar diisikan bensin satu liter dan berjanji akan membayar setelah mengantar anak sekolah.

Sayang, permintaan itu ditolak mentah-mentah. Bahkan, pemilik warung meminta jaminan berupa helm atau tas sekolah sang anak. “Dalam hati Saya sampai istigfar, segitunya saya dianggap akan menipu hanya untuk seliter bensin,” 

Di tengah keputusasaan, ibu yang sedang berada di warung itu yang kemudian diketahui bernama Ibu Lisa menawarkan bantuan. Meski hanya bisa membantu setengah liter bensin, tawaran itu diterima dengan penuh rasa syukur. Ibu Lina menolak menyebutkan alamat rumahnya, hanya menyebutkan bahwa anaknya bersekolah di Salah satu SDN di Megang dan duduk di kelas 2.

Setelah mengisi bensin, saya memutuskan kembali ke rumah untuk mengambil dompet dan ponsel. Anak saya yang merasa sudah terlambat memilih untuk tidak berangkat sekolah. Namun, saya merasa perlu membalas kebaikan Ibu Lina. Saya pun menyusul ke SDN tersebut untuk mengembalikan uang yang telah dipinjamkan.

Setibanya di sekolah, ia bertemu dengan Rika anak Ibu Lina dan menitipkan uang serta sedikit uang jajan sebagai bentuk terima kasih. “Saya tahu Ibu Lina mungkin tidak mengharapkan uangnya kembali, tapi saya ingin menepati janji saya,” .

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik mitos dan kesialan, selalu ada ruang untuk kebaikan dan harapan. Ibu Lina menjadi simbol bahwa empati dan kepercayaan masih hidup di tengah masyarakat. Sementara itu, sikap pemilik warung menjadi refleksi bahwa pengalaman buruk bisa membentuk prasangka, namun juga bisa dilunakkan dengan contoh nyata dari kebaikan orang lain.

Pesan saya buat pembaca semoga kita semua bisa menjadi seperti Ibu Lina menolong tanpa pamrih, percaya tanpa prasangka, dan menjadi cahaya bagi sesama di saat gelap datang tanpa diduga.

Penulis : Asrul Satriadi