Breaking News

Napak Tilas 45 Tahun Menggeluti Media Massa dan Media Sosial


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Kolumnis)

Jendelakita.my.id. - Napak tilas merupakan salah satu cara untuk mengingat kembali perjalanan atau peristiwa bersejarah, baik yang dialami secara pribadi maupun oleh suatu kelompok. Napak tilas dapat dilakukan untuk mengenang berbagai perjuangan, seperti napak tilas perjuangan Jenderal Sudirman dan berbagai peristiwa bersejarah lainnya.

Pada momentum ini, penulis ingin mengungkapkan kembali cerita lama tentang perjalanan dan aktivitas selama 45 tahun menulis di media massa maupun media sosial atau, istilah kerennya, sebagai kolumnis.

Perjalanan tersebut berawal pada 1980, setelah penulis menyelesaikan pendidikan Strata Satu di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Pada masa itu, alat tulis yang digunakan masih berupa mesin ketik. Mesin ketik merupakan satu-satunya alat untuk mengetik naskah. Jika terjadi kesalahan dalam pengetikan, tulisan harus dihapus menggunakan alat penghapus atau tip-ex.

Setelah menyelesaikan pendidikan, penulis mulai mencoba mengirimkan tulisan atau artikel ke berbagai media lokal. Beberapa media yang pernah menerbitkan tulisan tersebut antara lain Harian Suara Rakyat Semesta, Sriwijaya Post, Sumatera Ekspres, Palembang Ekspres, Palembang Pos, Transparan, dan Muara Enim Ekspres.

Ketika mengikuti pendidikan Strata Dua di Yogyakarta, penulis juga berkesempatan mengirimkan tulisan ke Harian Kedaulatan Rakyat. Selain media massa, sejumlah tulisan juga pernah dimuat dalam buletin dan majalah yang diterbitkan berbagai kampus, seperti Buletin Agama yang diterbitkan Bagian Agama Universitas Sriwijaya, As Sajidin, UIN Raden Fatah (IAIN), STIH Sumpah Pemuda, UMP Palembang, dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Metro Lampung Utara.

Seluruh tulisan tersebut terdokumentasi dengan baik sehingga masih dapat dibuka dan dibaca kembali hingga saat ini.

Perjalanan panjang tersebut juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dengan sejumlah jurnalis. Dari Sriwijaya Post (Sripo), di antaranya terdapat jurnalis senior seperti Saudara Salman Rasyidin, Iklim Cahaya, Hamzah, Soleh Thamrin (pimpinan Sripo pada masanya), Amirudin, dan Sugeng. Sementara dari Suara Rakyat Semesta terdapat Ujang, Sumek, Anwar Rasuan, serta sejumlah jurnalis lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Memasuki era media sosial, aktivitas menulis menjadi semakin mudah dengan dukungan perkembangan teknologi. Artikel kini dapat dibuat menggunakan komputer, laptop, email, bahkan telepon seluler yang memungkinkan penulis bekerja di mana dan kapan saja. Ketika muncul inspirasi, tulisan dapat segera dikonsep dan dikirimkan kepada media yang dituju.

Insyaallah, hingga hari ini, berbagai artikel dengan beragam topik dan tema masih terus ditulis dan diterbitkan. Alhamdulillah, rekan-rekan sejawat, baik dari kalangan redaksi maupun jurnalis, tetap bersemangat menayangkan tulisan tersebut.

Beberapa media yang pernah memuat tulisan penulis antara lain Jendela, Portal Musi (Lubuk Linggau), Khatulistiwa, Link Sumsel, Sental Pos, Koran Kita, Brita Brita, Satu Tujuan, dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi informasi semakin memudahkan komunikasi dan proses pengiriman tulisan.

Era media sosial juga semakin memperluas tali silaturahmi dengan para jurnalis. Beberapa di antaranya adalah Saudara Icuk, Bangun Lubis, Marshal, dan Saudara Supriyadi (Ketua Persatuan Wartawan Kota Lubuk Linggau).

Dari berbagai artikel yang telah dimuat di media massa maupun media sosial, sebagian tulisan kemudian dihimpun menjadi sebuah buku yang berisi lebih kurang 150 artikel. Buku tersebut berjudul Menjaga Warisan Leluhur, diterbitkan Goresan Pena Kuningan Jakarta, dengan memiliki Indek Standart Buku Nasional (ISBN) 978-634-242-169-7 pada Agustus 2025.

Mudah-mudahan seluruh tulisan tersebut dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Lebih dari itu, penulis berharap tulisan-tulisan tersebut dapat menjadi amal jariyah sebagai bagian dari ilmu yang bermanfaat dan menjadi kenang-kenangan ketika penulis sudah tiada lagi di dunia.

Semoga, sesekali, tulisan tersebut masih muncul di layar telepon seluler para pembaca ataupun teman-teman di Facebook. Dengan demikian, perjalanan panjang selama 45 tahun menggeluti dunia tulis-menulis dapat terus memberikan manfaat dan menjadi bagian dari catatan perjalanan kehidupan.