Di Mana Letak Kenyamanan?
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
.................
Aku Axel Wiksel. Aku berasal dari keluarga yang terkadang berada dalam kondisi beruntung, tetapi tidak jarang pula harus menghadapi keadaan yang sulit.
"Fuuuh. Ah, sial, kenapa aku hidup di tempat ini dan kondisi seperti ini."
Semasa SMA, aku hanya melihat secercah harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satu alasannya adalah biaya pendidikan kedua kakakku yang cukup besar, terutama karena mereka harus membayar UKT yang mahal.
Ya, kalau membicarakan kakakku yang pertama, sebenarnya dia sudah menyelesaikan kuliahnya. Sekarang dia bahkan sudah memiliki seorang istri dan satu anak. Pendidikan memang sudah selesai, tetapi ada satu pertanyaan yang masih terlintas di pikiranku: bagaimana sikapnya sebelum menikah?
Jawabannya adalah......
Sangat meresahkan.
Bagaimana tidak? Seseorang sudah mengetahui bahwa biaya pernikahan telah ditentukan dalam jumlah tertentu, tetapi justru membengkak dan akhirnya menimbulkan tumpukan utang.
Aku terkadang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya cara berpikirnya? Apakah yang ada di pikirannya tentang pernikahan hanya sebatas suami dan istri tinggal bersama, kemudian memiliki anak dan hidup dalam kedamaian?
Bukan begitu maksudku.
Menurutku, seseorang seharusnya memahami risiko ketika memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, ada banyak hal yang perlu dipikirkan. Bagaimana pendidikan anak nantinya? Bagaimana dengan biaya kesehatan? Apakah asuransi kesehatan benar-benar bisa menanggung seluruh kebutuhan? Dan masih banyak persoalan lainnya.
Aku juga tidak ingin membicarakan secara keseluruhan bagaimana hubungan kakakku yang pertama dengan kedua orang tuaku. Orang yang mengetahui situasinya mungkin bisa memahami sendiri.
Saat itu, waktunya juga berbarengan dengan kakakku yang kedua yang mulai memasuki jenjang perguruan tinggi. Namun, keputusan untuk menikah tetap dipaksakan.
Orang tuaku sebenarnya sudah sering berpesan kepada anak-anaknya,
" nak bapak dengan ibu gak akan mewariskan sedikit pun harta dan aset. Tapi kami berdua cuman bisa ngasih mindset dan ilmu ilmu dari pengalaman selama masa hidup kami".
Lalu, apa hubungannya dengan kakakku yang pertama?
Bukankah sejak awal orang tua sudah mengatakan bahwa mereka tidak dapat mewariskan harta dan aset, tetapi hanya mampu memberikan ilmu pengetahuan, pola pikir, serta pengalaman hidup?
Pertanyaanku sebenarnya sederhana: "orang tuh bisa gak sih gak usah ngeyel ?"
Namun, sebesar apa pun rasa kecewaku, dia tetaplah kakakku sendiri. Aku hanya bisa berharap suatu saat ada peristiwa yang mampu membuat egonya luluh dan menyadarkannya untuk lebih memahami keadaan.
Pada akhirnya, aku berharap kakakku yang kedua dapat memahami dan belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan kakakku yang pertama. Aku juga berharap dia tetap mengingat kedua orang tua kami yang selama ini telah bekerja keras, membanting tulang, hingga kulit mereka mulai mengeriput dan kondisi tubuh tidak lagi seprima dahulu.
Lalu, bagaimana dengan nasibku?
Sebenarnya sederhana. Aku tidak ingin terlalu berharap bahwa kedua orang tuaku akan mampu membiayai kuliahku. Karena itu, mungkin aku harus mencari pekerjaan yang dapat menerima seorang "fresh graduate".
Mungkin menjadi masinis di PT KAI bisa kali, :).
Jika nantinya aku mendapatkan pekerjaan, uang dari hasil bekerja itulah yang akan aku gunakan untuk membiayai kuliahku.