Breaking News

Mahasiswa dengan Dosen : Jauh Tapi Dekat, Dekat Tapi Jauh


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Mantan Akademisi)

Jendelakita.my.id. - Hubungan antara mahasiswa dan dosen idealnya dibangun atas dasar profesionalisme, etika, dan kepedulian. Gagasan tersebut pernah disampaikan kepada penulis pada 1983 saat mengikuti program pencangkokan calon dosen muda di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Saat itu, penulis mendapat bimbingan Prof. Iman Sudiyat, SH, Guru Besar Hukum Adat Fakultas Hukum UGM. Dalam salah satu perkuliahan, beliau mengutip ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang hubungan antara guru dan murid yang ideal, yakni "jauh tapi dekat, dekat tapi jauh."

Menurut Prof. Iman Sudiyat, semboyan tersebut mengandung makna yang juga relevan bagi hubungan mahasiswa dan dosen. "Jauh tapi dekat" berarti dosen harus menjaga batas profesional sesuai hukum, etika, dan norma akademik sehingga tidak muncul hubungan yang bersifat istimewa. Sementara "dekat tapi jauh" mengandung pesan agar dosen tetap peka terhadap kondisi, kebutuhan, dan perkembangan mahasiswa selama menjalani proses pendidikan tanpa mengabaikan batas profesional.

Prinsip tersebut dinilai mampu menciptakan komunikasi yang sehat sekaligus membangun interaksi akademik yang harmonis. Hubungan yang dilandasi saling menghormati akan mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kondusif bagi seluruh sivitas akademika.

Pemikiran ini kembali mengemuka setelah mencuatnya kasus di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi perhatian publik di media sosial. Seorang mahasiswi dikabarkan mengalami depresi berat setelah dinyatakan tidak lulus dalam ujian skripsi. Penulis memilih tidak mengulas substansi persoalan tersebut karena masing-masing pihak memiliki argumentasi dan sudut pandang yang berbeda.

Penyelesaian kasus seperti ini sepenuhnya menjadi kewenangan pihak perguruan tinggi, baik dekanat maupun rektorat, untuk melakukan klarifikasi dan mengambil langkah sesuai aturan yang berlaku. Pengalaman penulis selama lebih dari 40 tahun sebagai akademisi di perguruan tinggi negeri maupun swasta menunjukkan bahwa dinamika hubungan dosen dan mahasiswa bukanlah hal baru. Perbedaan pandangan, ego, maupun miskomunikasi kerap menjadi pemicu munculnya persoalan di lingkungan kampus. Karena itu, nilai-nilai yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara tetap relevan sebagai pedoman dalam membangun hubungan akademik yang sehat, beretika, dan saling menghargai.